Menyelam Sambil Minum




Oleh: KH A Mustifa Bisri

Tidak jelas benar, manakah yang lebih dulu menjadi profesinya: tabligh atau menyewakan pengeras suara. Orang-orang hanya tau dialah muballigh, yang sekaligus menyewakan suara. Mungkin berdasarkan pertimbangan kepraktisan, ternyata banyak juga yang mengundangnya untuk mengisi pengajian, terutama dalam rangka walimah pengantin atau khitanan.

Syahdan, dalam suatu kesempatan acara pengajian Isra Mi’raj, karena pembatunya kebetulan sakit, tokoh kita sendiri yang datang mempersiapkan dan memasang peralatan pengeras suara, sebelum nantinya beliau menggunakannya untuk berceramah.

Malamnya, ketika tokoh kita sudah di atas podium dan sedang bercerita kepada hadirin pengajian tentang perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw. dilihatnya beberapa anak sedang bermain-main di dekat peralatan sound-system-nya. Maka di sela-sela kisah Isra Mi’rajnyam disempatkannya juga memperingatkan anak-anak itu.

“Ketika sampai ke langit kelima, ada yang bertanya, ‘siapa itu?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Aku, Jibril’... Hei kamu anak-anak, jangan bermain-main dengan peralatan itu, nanti terganggu pengeras suaranya!”
Habis memperingatkan anak-anak, muballigh kita meneruskan ceramahnya, “Malaikat Jibril ditanya lagi, ‘kau datang dengan siapa?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Dengan Muhammad!’ .. (tiba-tiba pengeras suara berdengung). Ya aku bilang apa; jangan bermain-main dengan peralatan itu! Maaf para hadirin, ada gangguan sedikit.” Dan dai kita pun turun dari mimbar untuk mengusir anak-anak dan memperbaiki peralatan pengeras suaranya.

Baru tak lama kemudian naik lagi untuk melanjutkan ceramahnya. 

Ya Tuhan, Ampunilah Aku Sendiri


Oleh: KH A Mustofa Bisri

Seorang hamba berdoa dengan khusyuk , katanya, “ Ya Allah. Ya Tuhanku, ampunilah aku sendiri.”

Ketika ada yang menegurnya, “Kenapa kau mengkhususkan permintaan ampunanmu hanya untuk dirimu sendiri; bukankah Allah maha luas maghfiroh-Nya?! 

Dia pun menjawab, “Aku tak ingin memberatkan Tuhanku.”

Mengapa Tidak Ikut Saya Saja



Oleh: KH A Mustofa Bisri

Suatu hari seorang pengemis datang ke rumah seorang yang terkenal kikir. 

“Minta belas kasihan, tuan,” kata pengemis, “beri saya beberapa rupiah sekedar pembeli makanan.”

“Wah, saya lagi bokek. Tak punya uang.”

“Baiklah tuan, beri saya sedikit nasi untuk pengganjal perut saya yang lapar.”

“Wah, nasi pun tak ada. Belum ada yang ditanak.”

“Kalau begitu segelas teh pun cukup tuan.”

“Teh? Saya sendiri belum minum teh sampai saat ini.”

“Baiklah, kalau begitu sata minta air putih saja, sekedar mengurangi rasa haus.”

“Air putih pun tidak ada!” kata si kikir mantap.
Mendengar jawaban yang terakhir ini, si pengemis pu putus asa. Katanya, “Lho mengapa tuan duduk-duduk di sini. Mengapa tidak ikut saya saja?”

“Ke mana?” Tanya si kikir tidak mengerti.

“Ke mana lagi, ya bersama-sama mengemis!” kata si pengemis jengkel.

“Sampean kan tidak punya apa-apa seperti saya.”