Kiai dan Ulama



Oleh: KH A Mustofa Bisri

PADA masa itu mendirikan perkumpulan atau organisasi perjuangan memang sedang menjadi –istilah orang sekarang- tren. Kalangan pesantren pun tak mau ketinggalan. Sejumlah kiai, umumnya dari Jawa, pun berkumpul; ingin mewadahi jamaah mereka yang tersebar di saentero Nusantara dalam sebuah perkumpulan, organisasi, atau menurut istilah mereka: jam’iyyah. Dengan di-tandzim, ditata, dalam organisasi, diharapkan pengapdian mereka kepada masyarakat menjadi lebih mangkus dan sangkil.

Seperti diketahui, kalangan pesantren sangat akrab dengan yang berbau Arab. Ini tidak aneh, karena hampir semua pelajaran agama di pesantren menggunakan bahasa Arab. Bahkan tulisan yang mereka gunakan untuk memaknai kitab-kitab mereka –biasanya dengan bahasa daerah memakai huruf Arab. Tulisan Arab untuk menuliskan bahasa non-Arab ini kemudian dikenal sebagai tulisan pegon. Bahkan dulu, di beberapa pesantren, lagu wajib –termasuk Indonesia Raya- pun mereka Arabkan. Maka ketika mereka akan mendirikan perkumpulan para kiai, mereka memilih nama Nahdlatoel ‘Oelama –Kebangkitan Para Kiai.

Sebenarnya –Wallahualam- kata ‘oelama/’ulama tidak tepat benar untuk menerjemahkan kata kiai. Saya menduga, kata itu dipilih karena mereka tidak menemukan padanan kata kiai dalam bahasa Arab yang lebih dekat dari pada ‘Alim atau bentuk jamaknya ‘ulama. Dalam bahasa Arab, kata ‘alim/’ulama mempunyai arti orang pandai, orang berpengetahuan, yang pengetahuan, atau orang yang mempunyai ilmu. Secara bahasa, orang seperti Isaac Newton, Albert Enstein, juga Karl Heincreich Mark, bisa digolongkan ulama. 

Menurut istilah di kalangan pesantren, pengertian ‘alim/’ulama selalu dikaitkan dengan orang-orang yang disebut dalam sabda nabi, “Al-‘Ulama waratsatul Anbiyaa". Para ahli waris nabi-nabi. Maka, jika nabi mengemban misi risalah dan nubuwwah, orang baru bisa digolongkan ulama bila minimal melaksanakan satu dari kedua misi itu.

Tapi kiai, setidaknya menurut saya, adalah istilah budaya (bermula dari Jawa). Orang Jawa biasa menyebut kiai siapa atau apa saja yang mereka puja dan mereka hormati. Kiai Sabuk Inten, Kiai Nagasasra, Kiai Plered, misalnya, adalah senjata; Kiai Slamet adalah kerbau. Begitulah orang yang disebut kiai semula adalah mereka yang dipuja dan dihormati masyarakat, karena ilmunya, juga jasa dan rasa kasih sayang mereka terhadap masyarakat.

Dulu kiai –yang umumnya tinggal di desa- benar-benar kawan masyarakat, menjadi tumpuan, tempat bertanya dan meminta pertolongan. Sebaliknya, kiai yang dipuja dan dihormati masyarakat itu memang mencintai masyarakatnya, dan seperti mewakafkan dirinya untuk mereka. Kiai yang termasuk golongan mereka yang “yandzhuruna ilal ummah bi’ainir rahmah”, melihat umat dengan mata kasih sayang. Memberikan pelajaran kepada yang bodoh, membantu yang lemah, menghibur yang menderita, dan seterusnya. Kompleks pesantren –yang tempo doeloe umumnya 100 persen dibangun oleh kiai- adalah sebagian bukti perjuangan dan pengabdian kiai kepada masyarakat.

Kemudian kata Arab ‘ulama diserap ke dalam bahasa kita dan “berubah kelamin”, atau mengalami distorsi makna: ulama bukan bentuk lagi jamak (lihat KBBI entri ulama); sehingga bisa saja Anda mengatakan “seorang ulama” dan tak salah mengatakan “para ulama”. Istilah ulama –atau dan kiai- pun semakin berkembang pengertiannya dengan timbulnya ulama atau kiai yang tidak hanya “produk masyarakat”. Ada ulama/kiai –kata Arief Budiman- produk pemerintah, produk pers, dan siapa tahu, produk sendiri.

Oleh kemajuan ilmu keduniaan, dunia semakin menggiurkan. Manusia sang khalifah Allah pun, dari ingin menguasai dunia, sudah semakin tergila-gila dan dikuasai oleh dunia. Kekuatan, kekuasaan, kemampuan, dan kekayaan tak lagi bersumber dan diandalkan dari diri sang khalifah, tetapi dari dunia yang mereka kuasai. Agama, yang selama ini dianggap sebagai sumber dan penjaga kehidupan manusia, menjadi sekedar sektor. Mereka yang disebut ahlinya sektor ini, ulama atau kiai, dengan sendirinya juga mengalami perubahan.

Sebagian modernisasi menuntut spesialisasi di bidang kedokteran (kesehatan jasmani), agaknya demikian pula dalam bidang kesehatan rohani (agama), meski tidak sama persis. Kini ada kiai yang spesialisasinya urusan ritual saja, ada yang urusan sosial. Bahkan dari itu, kita kini mendengar macam-macam sebutan kiai: kiai syariat, kiai hakikat, kiai pemerintah, kiai politik, kiai TV, kiai glamour, kiai mbeling, kiai demo, dan sebagainya. 

Belakang pula muncul sebutan kiai khosh. Apapula ini? Khosh dalam bahasa Arab berarti khusus, kebalikan dari ‘Aam yang berarti umum. Istilah ini, seperti banyak istilah lain, penciptanya siapa lagi kalau bukan pers. Saya kira ini tidak ada –atau kalau ada sedikit sekali- kaitannya dengan peristilahan di kalangan umat sufi. Di kalangan para kiai pesantren pun tak dikenal istilah kiai khosh. Yang ada hanya istilah kiai sepuh, kiai yang dari segi umur, ilmu, dan terutama akhlaknya, di atas rata-rata.

Biasanya yang disebut kiai sepuh ini, di samping “keintiman”-nya dengan Allah, mempunyai ikatan batin yang kuat dengan umatnya. Karena kebersihan hatinya, dipercayai tidak mudah tergoda atau terkecoh oleh dunia maupun ahli dunia. Biasanya mereka menjadi tumpuan dan tempat mengadu bahkan oleh kiai-kiai lain, terutama mereka yang tidak mampu membantu menjawab keluhan dan pertanyaan umat. Sayang, contoh yang bisa saya kemukakan rata-rata sudah tiada, misalnya Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Arwani Kudus, Kiai Abdullah Salam Kajen Pati, dan kiai Dimyathi Banten, yang baru-baru ini pulang ke rahmatullah. Mudah-mudahan hanya saya yang tidak mampu mencari contoh yang lain, dan kiai semacam itu memang masih banyak di negeri kita ini.



Rizal dan Mbah Hambali



Oleh: KH AMustofa Bisri
 
Sebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin. Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu. Seolah-olah bersekongkol dengan kawan- kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum. 

Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek. Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa? 

“Terus teranglah, Zal. Sebenarnya cewek seperti apa sih yang kau idamkan?” tanya Andik menggoda, saat mereka berkumpul di rumah Pak Aryo yang biasa dijadikan tempat mangkal para aktivis LSM kelompoknya Rizal itu. 

“Kalau tahu maumu, kita kan bisa membantu, paling tidak memberikan informasi-informasi.” 

“Iya, Zal,” timpal Budi, “kalau kau cari yang cantik, adikku punya kawan cantik sekali. Mau
kukenalkan? Jangan banyak pertimbanganlah!
Dengar-dengar kiamat sudah dekat lho, Zal.” 

“Mungkin dia cari cewek yang hafal Quran ya, Zal?!” celetuk Eko sambil ngakak. “Wah kalau iya, kau mesti meminta jasa ustadz kita, Kang Ali ini. Dia pasti mempunyai banyak kenalan santri-santri perempuan, termasuk yang hafizhah.” 

“Apa ada ustadz yang rela menyerahkan anaknya yang hafizhah kepada bujang lapuk yang nggak bisa ngaji seperti Rizal ini?” tukas Edy mengomentari. 

“Tenang saja, Zal!” ujar Kang Ali, “kalau kau sudah berminat, tinggal bilang saja padaku.” 

“Jangan-jangan kamu impoten ya, Zal?” tiba-tiba
Yopi yang baru beberapa bulan kawin ikut meledek. 
Rizal meninju lengan Yopi, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecut. 

“Tidak sumbut dengan tampilanmu,” celetuk Pak Aryo ikut nimbrung sehabis menyeruput kopinya.
“Tampang boleh, sudah punya penghasilan lumayan, sarjana lagi; sama cewek kok takut! Aku carikan bagaimana?” 

“Jawab dong, Zal!” kata Bu Aryo yang muncul menghidangkan pisang goreng dan kacang rebus, mencoba menyemangati Rizal yang tak berkutik dikerubut kawan-kawannya. 

“Biar saja, Bu,” jawab Rizal pendek tanpa nada kesal. “Kalau capek kan berhenti sendiri.”
Memang Rizal orangnya baik. Setiap kali diledek dan digoda kawan-kawannya soal kawin begitu, dia tidak pernah marah. Bahkan diam-diam dia bersyukur kawan-kawannya memperhatikan dirinya. Dan bukannya dia tidak pernah berpikir untuk mengakhiri masa lajangnya; takut pun tidak. Dia pernah mendengar sabda Nabi yang menganjurkan agar apabila mempunyai sesuatu hajat yang masih baru rencana jangan disiar-siarkan. 
Sudah sering –sampai bosan– Rizal menyatakan keyakinannya bahwa jodoh akan datang sendiri, tidak perlu dicari. Dicari ke mana-mana pun, jika bukan jodoh pasti tidak akan terwujud. Jodoh seperti halnya rezeki. Mengapa orang bersusah-payah memburu rezeki, kalau rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya dari Atas. Harta yang sudah di tangan seseorang pun kalau bukan rezekinya akan lepas. 

Dia pernah membaca dalam buku “Hikam”-nya Syeikh Ibn ’Athaillah As-Sakandarany sebuah ungkapan yang menarik, “Kesungguhanmu dalam memperjuangankan sesuatu yang sudah dijamin untukmu dan kesambalewaanmu dalam hal yang dituntut darimu, membuktikan padamnya mata- hati dari dirimu.” 
Setiap teringat ungkapan itu, Rizal merasa seolah-olah disindir oleh tokoh sufi dari Iskandariah itu.
Diakuinya dirinya selama ini sibuk –kadang-kadang hingga berkelahi dengan kawan– mengejar rezeki, sesuatu yang sebetulnya sudah dijamin Tuhan untuknya. Sementara dia sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan.
“Suatu ketika mereka akan tahu juga,” katanya dalam hati.
***

Syahdan, pada suatu hari, ketika kelompok Rizal berkumpul di rumah Pak Aryo seperti biasanya, Kang Ali bercerita panjang lebar tentang seorang “pintar” yang baru saja ia kunjungi. Kang Ali memang mempunyai kesukaan mengunjungi orang-orang yang didengarnya sebagai orang pintar; apakah orang itu itu kiai, tabib, paranormal, dukun, atau yang lain. 

“Aku ingin tahu,” katanya menjelaskan tentang kesukaannya itu, “apakah mereka itu memang mempunyai keahlian seperti yang aku dengar, atau hanya karena pintar-pintar mereka membohongi masyarakat sebagaimana juga terjadi di dunia politik.” 

Karena kesukaannya inilah, oleh kawan-kawannya Kang Ali dijuluki pakar “orang pintar”. “Meskipun belum tua benar, orang-orang memanggilnya mbah. Mbah Hambali. Orangnya nyentrik. Kadang-kadang menemui tamu ote-ote, tanpa memakai baju. Kadang-kadang dines pakai jas segala. Tamunya luar biasa; datang dari segala penjuru tanah air. Mulai dari tukang becak hingga menteri. Bahkan menurut penuturan orang-orang dekatnya, presiden pernah mengundangnya ke istana. Bermacam-macam keperluan para tamu itu; mulai dari orang sakit yang ingin sembuh, pejabat yang ingin naik pangkat, pengusaha pailit yang ingin lepas dari lilitan utang, hingga caleg nomor urut sepatu yang ingin jadi. Dan kata orang-orang yang pernah datang ke Mbah Hambali, doa beliau memang mujarab. Sebagian di antara mereka malah percaya bahwa beliau waskita, tahu sebelum winarah.” 

Pendek kata, menurut Kang Ali, Mbah Hambali ini memang lain. Dibanding orang-orang “pintar” yang pernah ia kunjungi, mbah yang satu ini termasuk yang paling meyakinkan kemampuannya. 

“Nah, kalau kalian berminat,” kata Kang Ali akhirnya, “aku siap mengantar.” 

“Wah, ide bagus ini,” sahut Pak Aryo sambil merangkul Rizal. “Kita bisa minta tolong atau minimal minta petunjuk tentang jejaka kasep kita ini. Siapa tahu jodohnya memang melalui Mbah Hambali itu.” 

“Setujuuu!” sambut kawan-kawan yang lain penuh semangat seperti teriakan para wakil rakyat di gedung parlemen. 

Hanya Rizal sendiri yang, seperti biasa, hanya diam saja; sambil senyum-senyum kecut. Sama sekali tak ada tanda-tanda dia keberatan. Apakah sikapnya itu karena dia menghargai perhatian kawan-kawannya dan tak mau mengecewakan mereka, atau sebenarnya dia pun setuju tapi malu, atau sebab lain, tentu saja hanya Rizal yang tahu. 

Tapi ketika mereka memintanya untuk menetapkan waktu, dia tampak tidak ragu-ragu menyebutkan hari dan tanggal; meski seandainya yang lain yang menyebutkannya, semuanya juga akan menyetujuinya, karena hari dan tanggal itu merupakan waktu prei mereka semua.
***

Begitulah. Pagi-pagi pada hari tanggal yang ditentukan, dipimpin Kang Ali, mereka beramai- ramai mengunjungi Mbah Hambali. 

Ternyata benar seperti cerita Kang Ali, tamu Mbah Hambali memang luar biasa banyaknya. Pekarangan rumahnya yang luas penuh dengan kendaraan. Dari berbagai plat nomor mobil, orang tahu bahwa mereka yang berkunjung datang dari berbagai daerah.

Rumahnya yang besar dan kuno hampir seluruh ruangnya merupakan ruang tamu. Berbagai ragam kursi, dari kayu antik hingga sofa model kota, diatur membentuk huruf U, menghadap dipan beralaskan kasur tipis di mana Mbah Hambali duduk menerima tamu-tamunya. 

Di dipan itu pula konon si mbah tidur. Persis di depannya, ada tiga kursi diduduki mereka yang mendapat giliran matur. 

Ternyata juga benar seperti cerita Kang Ali, Mbah Hambali memang nyentrik. Agak deg-degan juga rombongan Rizal cs melihat bagaimana “orang pintar” itu memperlakukan tamu-tamunya. 
Ada tamu yang baru maju ke depan, langsung dibentak dan diusir. Ada tamu yang disuruh mendekat, seperti hendak dibisiki tapi tiba-tiba “Au!” si tamu digigit telinganya. Ada tamu yang diberi uang tanpa hitungan, tapi ada juga yang dimintai uang dalam jumlah tertentu. 

Giliran rombongan Rizal cs diisyarati disuruh menghadap. Kang Ali, Pak Aryo, dan Rizal sendiri yang maju. 
Belum lagi salah satu dari mereka angkat bicara, tiba-tiba Mbah Hambali bangkit turun dari dipannya, menghampiri Rizal.

“Pengumuman! Pengumuman!” teriaknya sambil menepuk-nepuk pundak Rizal yang gemetaran.

“Kenalkan ini calon menantu saya! Sarjana ekonomi, tapi nyufi!” Kemudian katanya sambil mengacak-acak rambut Rizal yang disisir rapi, “Sesuai yang tersurat, kata sudah diucapkan, disaksikan malaikat, jin, dan manusia. Apakah kau akan menerima atau menolak takdirmu ini?” 

“Ya, Mbah!” jawab Rizal mantap.

“Ya bagaimana? Jadi maksudmu kau menerima anakku sebagai istrimu?” 

“Ya, menerima Mbah!” sahut Rizal tegas.

“Ucapkan sekali lagi yang lebih tegas!” 

“Saya menerima, Mbah!”

“Alhamdulillah! Sudah, kamu dan rombonganmu boleh pulang. Beritahukan keluargamu besok lusa suruh datang kemari untuk membicarakan kapan akad nikah dan walimahnya!” 
Di mobil ketika pulang, Rizal pun dikeroyok kawan-kawannya.

“Lho, kamu ini bagaimana, Zal?” kata Pak Aryo penasaran. 

“Tadi kamu kok ya ya saja, seperti tidak kau pikir.” 

“Kau putus asa ya?” timpal Budi. 

“Atau jengkel diledek terus sebagai bujang lapuk, lalu kau mengambil keputusan asal-asalan begitu?”

“Ya kalau anak Mbah Hambali cantik,” komentar Yopi, “kalau pincang atau bopeng, misalnya, bagaimana?” 

“Pernyataanmu tadi disaksikan orang banyak lho,” kata Eko mengingatkan. “Lagi pula kalau kau ingkar, kau bisa kualat Mbah Hambali nanti!”

“Jangan-jangan kau diguna-gunain Mbah Hambali, Zal!” kata Andik khawatir. 
Seperti biasa, Rizal hanya diam sambil senyum-senyum. Kali ini tidak seperti biasa, Kang Ali juga diam saja sambil senyum-senyum penuh arti. 


Gus Dur dan Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dengan Islam


Oleh: KH A Mustofa Bisri

Saat membicarakan Khitthah Nahdlatul Ulama dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Situbondo 16 Rabiul Awwal 1404 H / 21 Desember 1983,  ada 3 Sub Komisi Khitthah yang masing-masing dipimpin oleh KH. Tholchah Mansoer; Drs. Zamroni, dan H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – rahimahumuLlah.
Gus Dur waktu itu memimpin Sub. Komisi Deklarasi yang membahas tentang Hubungan Pancasila dengan Islam. Dan Deklarasi di bawah inilah hasilnya:
 
***
Bismillahirrahmanirrahim
1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.
2. Sila "Ketuhanan Yang Maha Esa" sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
3. Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia.
4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.
5. Sebagai konsekwensi  dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua pihak.
Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama
Situbondo, 16 Rabiul Awwal 1404 H / 21 Desember 1983 M
 
***
Rapat untuk merumuskan Deklarasi di atas, hanya berlangsung singkat sekali. Pimpinan (H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) membuka rapat dengan mengajak membaca AL-Fatihah. Lalu mengusulkan  bagaimana kalau masing-masing yang hadir menyampaikan pikirannya satu-persatu dan usul ini disetujui. Kemudian secara bergiliran masing-masing anggota Sub Komisi -- dr. Muhammad dari Surabaya; KH. Mukaffi Maki dari Madura; KH. Prof. Hasan dari Sumatera;  KH. Zarkawi dari Situbondo; dan . A. Mustofa Bisri dari Rembang —berbicara menyampaikan pikirannya berkaitan dengan Pancasila dan apa yang perlu dirumus-tuangkan dalam Deklarasi.
 
Setelah semuanya berbicara, Pimpinan pun menkonfirmasi apa yang disampaikan kelima anggota dengan membaca catatannya, lalu katanya: “Bagaimana kalau kelima hal ini saja yang kita jadikan rumusan?” Semua setuju. Pimpinan memukulkan palu. Dan rapat pun usai.  
 
K. Kun Solahuddin yang diutus K. As’ad Samsul Arifin untuk ‘mengamati’ rapat, kemudian melapor ke K. As’ad. Ketika kembali menemui Pimpinan dan para anggota Sub Komisi, K. Kun mengatakan bahwa K. As’ad kurang setuju dengan salah satu redaksi dalam Deklarasi hasil rapat dan minta untuk diganti. Sub Komisi Khitthah pun mengutus A. Mustofa Bisri untuk menghadap dan berunding dengan K. As’ad. Hasilnya ialah Deklarasi di atas.
 
Yang masih menyisakan tanda Tanya di benak saya selaku ‘saksi sejarah’, bagaimana Gus Dur bisa begitu cepat menyimpulkan semua yang disampaikan anggota Sub Komisi dan kelimanya –termasuk saya-- merasa bahwa kesimpulan yang dirumuskannya telah mencakup pikiran kami masing-masing. Dugaan saya, Gus Dur sudah “membaca” masing-masing pribadi kami dan karenanya  sudah tahu apa yang akan kami katakan berkenaan dengan Pancasila, lalu menuliskan kelima butir rumusan tersebut. Dugaan ini sama atau diperkuat dengan fenomena yang masyhur: ketika Gus Dur sanggup menanggapi dengan pas pembicaraan orang yang –padahal-- pada saat berbicara, Gus Dur tidur. Wallahu a’lam.