Buta Mata dan Buta Hati


Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Suatu Malam, seorang lelaki melihat dengan heran seorang buta yang berjalan dengan membawa buyung tempat air di atas pundaknya dan lampu di tangannya. Lelaki itu pun menegurnya, “Pak, Sampeyan ini kan buta, malam dan siang bagi Sampeyan kan sama saja; untuk apa Sampeyan membawa-bawa lampu?”

“Orang usil”, jawab si buta ketus, “aku membawa lampu malam-malam begini untuk orang yang buta hatinya seperti kamu, agar tidak menabrakku di gelap malam dan memecahkan buyungku.”


Pers dan “Public Figure”


Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

KONON di zaman Jahiliyah, ketika sastra lisan mendominasi kehidupan di Arab, penyair merupakan tokoh masyarakat yang sangat disegani, bahkan ditakuti. Barang siapa tidak disenangi –apalagi berani melawan- penyair, dia bisa kena dalam syair-syairnya. Dan sebentar kemudian seluruh negeri pun, tanpa ampun akan “menyanyikan” kecaman itu. Sebaliknya, barang siapa disenangi –kemudian di-madah, dipuja-puji dalam syair- oleh penyair, sebentar saja seluruh negeri pun akan menyenandungkan pujian itu. Itulah sebabnya, Imri-il Qais, misalnya, penyair urakan yang kesohor di zaman itu, meski tidak disenangi karena kelakuannya, tetap saja disegani dan diperlakukan –walau hanya basa-basi- dengan manis, termasuk oleh gadis-gadis yang sebenarnya jengkel karena sering digodanya.

Saya sering berfikir “kedudukan” wartawan, atau barangkali tepatnya pers, dewasa ini kayaknya kok persis atau miriplah dengan penyair zaman Jahiliyah tempo doele. Paling tidak ada semacam “kehati-hatian” masyarakat masa kini apabila menghadapi wartawan atau insan pers. Sebab kalau tidak hati-hati, salah- salah bisa –kalau dulu di-hijaa penyair, sekarang- dikorankan. Dan seluruh negeri pun akan menggunjingnya. Demikian pula, kalau nasib anda baik, salah-salah –karena sentuhan pers- anda akan menjadi sanjungan seluruh negeri.

Mereka yang sering disebut-sebut termasuk public figure, apakah dari kalangan artis, kiai, cendekiawan, pejabat, atau yang lain, sebenarnya pun ketenaran mereka bermula dari –dan dibangun oleh- andil besar pers. Seseorang boleh mengaku atau diaku tokoh, tapi tanpa campur tangan pers, siapa yang akan mengenalnya sebagai tokoh?

Tanyalah sekarang ini, misalnya di Indonesia ini, siapakah aktor paling hebat? Siapakah cendekiawan paling piawai? Siapakah kiai paling alim? Siapakah pejabat paling jempolan? Siapakah penyair paling ulung? Siapakah pembaru paling baru? Tanyalah kepada orang terpelajar manapun, insya Allah anda akan mendapatkan jawaban nama-nama yang persis pernah diddiktekan oleh pers.

Padahal kalau agak lebih cermat kita berfikir, kecuali mengenai aktor dan pejabat yang jumlahnya terbatas, sewajarnyalah kita bertanya-tanya, benarkan yang “didiktekan” pers itu? Misalnya khusus tentang kiai paling alim itu; kita tahu di kita ada ribuan kiai dan ada ratusan diantaranya yang –bila menggunakan “ukuran standar” , Al Quran,- seribu kali lebih alimdan lebih mulia dari pada semua nama kiai yang dikenal dan dikenalkan –atau diterkenalkan- oleh pers selama ini. Tidak percaya silahkan datang ke daerah-daerah dan bukalah Al Quran!

Tetapi apa mau dikata itu lah pers. Itulah opini yang “diciptakannya”.

Begitulah; siapa saja –khususnya dari kalangan pemilik kepentingan- yang memahami dan menyadari kekuatan pers ini, rasanya tidak ada yang tidak tergiur untuk memanfaatkannya. Mulai dari pihak yang ingin mengajak membangun negara sampai yang sekedar ingin menutupi selingkuhnya terhadap negara; mulai dari pihak yang ingin mengalahkan lawan politik sampai yang sekedar ingin mempopulerkan diri; semuanya bisa menggunakan jasa pers. Dan saya pikir, pemerintahlah yang paling paham dan menyadari kekuatan pers ini, tentunya selain pihak pers sendiri.

Kearifan klise biasanya menamsilkan kekuatan dengan pedang atau senjata. Senjata di tangan yang benar, bisa menjaga dan melindungi; sebaliknya, di tangan yang salah, bisa merusak dan menghancurkan. Dimikianlah pula kekuatan pers. Kita bisa dan telah menyaksikan hal-hal positif bagi kehidupan bangsa dan negara yang merupakan sumbangan konkret dari pers kita. Namun disamping itu, kita pun tidak bisa menutup mata terhadap hal-hal negatif yang timbul akibat kelalaian pihak pers; seperti misalnya, kebingungan dan bahkan keresahan masyarakat yang disebabkan oleh pemutarbalikan fakta; pengeksposan berita-berita sensasional yang tidak jelas manfaatnya bagi kepentingan umu; pemberitaan-pemberitaan tendensius yang hanya memuaskan pihak-pihak tertentu, dan masih banyak lagi.

Bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi public figure atas jasa pers, kiranya perlu lebih waspada. Satu dan lain hal karena merekah biasanya yang menjadi incaran pertama insan-insan pers dan atau kemudian –sorotan masyarakat. Remeh-temeh mereka bisa menjadi hal penting. Gurauan mereka bisa menjadi serius. Main-main mereka bisa menjadi sungguhan. Perilaku mereka diamati. Pernyataan mereka dicatat. Bahkan omong kosong mereka bisa dianggap fatwa. 

Saya memperoleh kesan –mudah-mudahan tidak benar- akhir-akhir ini mereka –para public figure itu (apakah dari kalangan pejabat, artis, kiai, cendekiawan, budayawan, atau lainnya)- seolah-olah tidak menyadari –atau sengaja pura-pura tidak tahu- betapa, gara-gara pers, mereka telah menjadi makhluk-makhluk yang sangat diperhatikan.

Terkesan umumnya mereka ngomong seenaknya (mungkin mengandalkan gampangnya mereka meralat); termasuk ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan kegamaan dan kenegaraan yang oleh masyarakat dianggap penting bahkan gawat. Sehingga sering kali sulit dibedakan mana mereka yang pintar dan mana yang bloon. Apalagi sepertinya telah menjadi tren, begitu seseorang telah dinobatkan sebagai public figure, lalu merasa diri segalanya dan tahu segalanya. Tiba-tiba artis bicara dan berlagak seperti kiai; kiai berbicara dan berlagak seperti pejabat, pejabat bicara dan berlagak seperti pelawak; pelawak bicara dan berlagak sepeti cendekiawan; cendekiawan bicara dan berlagak seperti artis; atau sebaliknya.

Nah, kalau apa yang saya katakan masuk akal dan tidak berlebih-lebihan, yaitu bahwa pers begitu penting posisi dan perannya maka sudah sewajarnyalah apabila kita mengharap dari kalangan pers –lebih dari yang lain- untuk meningkatkan keakraban mereka dengan nurani-nurani mereka dan mengintensifkan dialog mereka dengan diri-diri mereka sendiri. Tak lebih dari itu. Kita percaya, tentang kode etik dan pers yang berbudaya; tentang keberanian dan kejujuran; tentang integritas dan tanggung jawab; mereka jauh lebih memahami dan mengerti.


"Ora Usah Melu Macam-macam"

 Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU). Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan Pelajar NU).

Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.

Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.

Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho??