Kekelompokan Jahiliyah


Oleh KH A Mustofa Bisri

Seperti diketahui, sebelum kedatangan Islam, khususnya masyarakat Arab sangat terkenal dengan budaya pengelompokan kabilah, klan, suku, dengan tingkat fanatisme yang luar biasa. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tapi sering kali sambil merendahkan kelompok yang lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’: Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati. Inilah yang disebut ‘Ashabiyah. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka, umumnya diakibatkan oleh ‘ashabiyah atau fanatisme kelompok ini.

Persoalan sepele bisa menjadi api penyulut peperangan besar apabila itu menyangkut kehormatan atau kepentingan kelompok. Pertengkaran pribadi antar kelompok dapat dengan cepat membakar emosi seluruh anggota masing-masing kelompok oleh apa yang disebut-kecam Nabi Muhammad SAW. dengan Da’wa ‘l-jahiliyyah, masing-masing pihak yang bertengkar memanggil-manggil meminta bantuan kelompoknya. Dan pertengkaran pribadi pun menjadi peperangan antar kelompok.

Itulah salah satu ‘kegelapan’ Jahiliyah yang diperjuangkan Rasulullah SAW. untuk dikuakkan oleh cahaya Islam.

Nabi Muhammad SAW., Nabi Kasih sayang yang membawa agama kasih sayang, memperkenalkan kehidupan kemanusiaan yang mulia. Nabi mengingatkan bahwa seluruh manusia berasal dari bapak yang satu yaitu Adam. Tak ada seorang atau sekelompok pun manusia yang lebih mulia dari yang lain. Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non Arab. Kulit putih tidak lebih mulia dari kulit hitam. Yang termulia di antara mereka di hadapan Allah adalah yang paling takwa kepadanya.

Mereka yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah berarti dia telah masuk Islam dan disebut muslim. Dan muslim satu dengan yang lain–menurut Nabi Muhammad SAW.–bersaudara; tidak boleh saling menghina, tidak boleh saling menjengkelkan, tidak boleh saling melukai. Masing-masing harus menjaga nyawa, kehormatan, dan harta saudaranya. Muslim satu dengan yang lain ibarat satu tubuh atau satu bangunan.

Demikianlah; panutan agung semua orang yang mengaku muslim, Nabi Muhammad SAW., mempersaudarakan umat Islam di Madinah antara mereka yang berasal dari suku-suku asli Madinah (Kelompok Ansor dari suku Khazraj dan Aus) dan para pendatang dari Mekkah (Kelompok Muhajirin dari berbagai suku) dan mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Madinah yang non muslim. Dan dengan demikian kedegilan ‘ashabiyah Jahiliyah yang selama ini berakar kuat pun sirna, digantikan oleh kearifan akal budi kemanusiaan yang mulia.

Memang adakalanya penyakit ‘ashabiyah itu nyaris muncul lagi, namun kebijaksanaan Rasulullah SAW. segera menangkalnya sejak gejalanya yang paling dini; seperti peristiwa yang terjadi setelah perang Bani Musthaliq pada tahun kelima hijrah.

Waktu itu, seorang buruh yang bekerja pada shahabat Umar Ibn Khatthab (dari Muhajirin) berkelahi dan memukul seorang sobat suku Khazraj. Orang ini pun berteriak memanggil-manggil dan meminta bantuan kelompok Khazraj; sementara si buruh pun berteriak-teriak meminta bantuan kaum muhajirin. Hampir saja terjadi tawuran antara kedua kelompok itu. Untung, Rasulullah segera keluar, sabdanya : “Maa baalu da’waa ‘l-Jahiliyah?” (“Lho mengapa ada seruan model Jahiliyah?”). Ketika diberitahu duduk perkaranya, Rasulullah SAW. pun bersabda: “Tinggalkan perilaku Jahiliyah itu! Itu busuk baunya!” Rasulullah pun meleraikan mereka dengan adil. Dan malapetaka pun terhindarkan.

Fanatisme, terutama dalam pengertiannya yang ektrem, memang sering menghilangkan penalaran sehat; sebab memang emosi yang lebih berkuasa. Puncaknya – apabila emosi sudah sangat menguasai -- orang yang bersangkutan pun tidak mampu lagi melihat dan mendengar, shummum bukmun ‘umyun. Itulah barangkali sebabnya, orang yang terlalu fanatik terhadap kelompoknya, tidak bisa bersikap obyektif dan cenderung tidak bisa diajak bicara oleh kelompok yang lain.

Di negeri kita yang bukan Arab, khususnya di zaman pasca orde baru ini, penyakit semacam ‘ashabiyah Jahiliyah itu rupanya juga mulai mewabah. Bukan kelompok suku dan agama saja yang difanatiki berlebihan, bahkan kelompok politik pun sudah cenderung difanatiki melebihi agama. Lebih celaka lagi – agaknya karena pemahaman soal politik dan demokrasi yang masih cingkrang di satu pihak, dan pemahaman atau penghayatan agama yang dangkal di lain pihak – fanatisme kelompok politik ini membawa-bawa agama. Maka campur-aduklah antara kepentingan agama, kepentingan politik dan nafsu. Tidak jelas lagi apakah kepentingan politik mendukung agama; atau agama mendukung kepentingan politik; ataukah justru politik dan agama mendukung nafsu. Bahkan banyak mubaligh atau da’i – yang seharusnya meneruskan misi kasih sayang Rasulullah SAW. – entah sadar atau tidak, justru lebih mirip jurkam atau malah provokator yang tidak merasa risi mengeluarkan kata-kata kotor yang sangat dibenci oleh Nabi mereka sendiri.

Itu semua ditambah kita ini sejak zaman kerajaan; zaman penjajahan; zaman orla; hingga zaman orba; tidak dididik untuk dapat berbeda, sebagai pelajaran awal berdemokrasi. Malah didikan yang kita terima terus-menerus adalah keharusan seragam. Akibatnya, ketika ‘euforia demokrasi’ marak mengiringi tumbangnya rezim Soeharto yang otoriter, orang hanya berpikir mendirikan partai tanpa sempat memikirkan kaitannya partai dengan kehidupan berdemokrasi yang menuntut sikap menghargai perbedaan. ‘Ashabiyah Jahiliyah pun menemukan bentuknya yang lebih busuk bahkan di kalangan kaum beragama. 

Kalau ini tidak cepat disadari khususnya oleh para pemimpin, umumnya oleh para pendukung kelompok atau partai, minimal mereka yang masih mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dan Sayyidina Muhammad SAW. sebagai nabi dan pemimpin agung mereka, saya khawatir memang azablah yang sedang menimpa kita. Dan azab itu hanya Allah yang kuasa menimpakan dan menghilangkannya. “Qul Hual Qaadiru ‘alaa ‘an yab’atsa ‘alaikum ‘azaaban …” (Q.6: 65) “Katakanlah (Muhammad,) ‘Dialah yang berkuasa mengirimkan azab dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mengacaukan kalian dalam kelompok-kelompok (fanatik yang saling bertentangan) dan mencicipkan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain …’” 

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk kembali ke jalanNya yang lurus, mengikuti jejak RasulNya yang berbudi dan mulia. Amin. 


Buta Mata dan Buta Hati


Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Suatu Malam, seorang lelaki melihat dengan heran seorang buta yang berjalan dengan membawa buyung tempat air di atas pundaknya dan lampu di tangannya. Lelaki itu pun menegurnya, “Pak, Sampeyan ini kan buta, malam dan siang bagi Sampeyan kan sama saja; untuk apa Sampeyan membawa-bawa lampu?”

“Orang usil”, jawab si buta ketus, “aku membawa lampu malam-malam begini untuk orang yang buta hatinya seperti kamu, agar tidak menabrakku di gelap malam dan memecahkan buyungku.”


Pers dan “Public Figure”


Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

KONON di zaman Jahiliyah, ketika sastra lisan mendominasi kehidupan di Arab, penyair merupakan tokoh masyarakat yang sangat disegani, bahkan ditakuti. Barang siapa tidak disenangi –apalagi berani melawan- penyair, dia bisa kena dalam syair-syairnya. Dan sebentar kemudian seluruh negeri pun, tanpa ampun akan “menyanyikan” kecaman itu. Sebaliknya, barang siapa disenangi –kemudian di-madah, dipuja-puji dalam syair- oleh penyair, sebentar saja seluruh negeri pun akan menyenandungkan pujian itu. Itulah sebabnya, Imri-il Qais, misalnya, penyair urakan yang kesohor di zaman itu, meski tidak disenangi karena kelakuannya, tetap saja disegani dan diperlakukan –walau hanya basa-basi- dengan manis, termasuk oleh gadis-gadis yang sebenarnya jengkel karena sering digodanya.

Saya sering berfikir “kedudukan” wartawan, atau barangkali tepatnya pers, dewasa ini kayaknya kok persis atau miriplah dengan penyair zaman Jahiliyah tempo doele. Paling tidak ada semacam “kehati-hatian” masyarakat masa kini apabila menghadapi wartawan atau insan pers. Sebab kalau tidak hati-hati, salah- salah bisa –kalau dulu di-hijaa penyair, sekarang- dikorankan. Dan seluruh negeri pun akan menggunjingnya. Demikian pula, kalau nasib anda baik, salah-salah –karena sentuhan pers- anda akan menjadi sanjungan seluruh negeri.

Mereka yang sering disebut-sebut termasuk public figure, apakah dari kalangan artis, kiai, cendekiawan, pejabat, atau yang lain, sebenarnya pun ketenaran mereka bermula dari –dan dibangun oleh- andil besar pers. Seseorang boleh mengaku atau diaku tokoh, tapi tanpa campur tangan pers, siapa yang akan mengenalnya sebagai tokoh?

Tanyalah sekarang ini, misalnya di Indonesia ini, siapakah aktor paling hebat? Siapakah cendekiawan paling piawai? Siapakah kiai paling alim? Siapakah pejabat paling jempolan? Siapakah penyair paling ulung? Siapakah pembaru paling baru? Tanyalah kepada orang terpelajar manapun, insya Allah anda akan mendapatkan jawaban nama-nama yang persis pernah diddiktekan oleh pers.

Padahal kalau agak lebih cermat kita berfikir, kecuali mengenai aktor dan pejabat yang jumlahnya terbatas, sewajarnyalah kita bertanya-tanya, benarkan yang “didiktekan” pers itu? Misalnya khusus tentang kiai paling alim itu; kita tahu di kita ada ribuan kiai dan ada ratusan diantaranya yang –bila menggunakan “ukuran standar” , Al Quran,- seribu kali lebih alimdan lebih mulia dari pada semua nama kiai yang dikenal dan dikenalkan –atau diterkenalkan- oleh pers selama ini. Tidak percaya silahkan datang ke daerah-daerah dan bukalah Al Quran!

Tetapi apa mau dikata itu lah pers. Itulah opini yang “diciptakannya”.

Begitulah; siapa saja –khususnya dari kalangan pemilik kepentingan- yang memahami dan menyadari kekuatan pers ini, rasanya tidak ada yang tidak tergiur untuk memanfaatkannya. Mulai dari pihak yang ingin mengajak membangun negara sampai yang sekedar ingin menutupi selingkuhnya terhadap negara; mulai dari pihak yang ingin mengalahkan lawan politik sampai yang sekedar ingin mempopulerkan diri; semuanya bisa menggunakan jasa pers. Dan saya pikir, pemerintahlah yang paling paham dan menyadari kekuatan pers ini, tentunya selain pihak pers sendiri.

Kearifan klise biasanya menamsilkan kekuatan dengan pedang atau senjata. Senjata di tangan yang benar, bisa menjaga dan melindungi; sebaliknya, di tangan yang salah, bisa merusak dan menghancurkan. Dimikianlah pula kekuatan pers. Kita bisa dan telah menyaksikan hal-hal positif bagi kehidupan bangsa dan negara yang merupakan sumbangan konkret dari pers kita. Namun disamping itu, kita pun tidak bisa menutup mata terhadap hal-hal negatif yang timbul akibat kelalaian pihak pers; seperti misalnya, kebingungan dan bahkan keresahan masyarakat yang disebabkan oleh pemutarbalikan fakta; pengeksposan berita-berita sensasional yang tidak jelas manfaatnya bagi kepentingan umu; pemberitaan-pemberitaan tendensius yang hanya memuaskan pihak-pihak tertentu, dan masih banyak lagi.

Bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi public figure atas jasa pers, kiranya perlu lebih waspada. Satu dan lain hal karena merekah biasanya yang menjadi incaran pertama insan-insan pers dan atau kemudian –sorotan masyarakat. Remeh-temeh mereka bisa menjadi hal penting. Gurauan mereka bisa menjadi serius. Main-main mereka bisa menjadi sungguhan. Perilaku mereka diamati. Pernyataan mereka dicatat. Bahkan omong kosong mereka bisa dianggap fatwa. 

Saya memperoleh kesan –mudah-mudahan tidak benar- akhir-akhir ini mereka –para public figure itu (apakah dari kalangan pejabat, artis, kiai, cendekiawan, budayawan, atau lainnya)- seolah-olah tidak menyadari –atau sengaja pura-pura tidak tahu- betapa, gara-gara pers, mereka telah menjadi makhluk-makhluk yang sangat diperhatikan.

Terkesan umumnya mereka ngomong seenaknya (mungkin mengandalkan gampangnya mereka meralat); termasuk ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan kegamaan dan kenegaraan yang oleh masyarakat dianggap penting bahkan gawat. Sehingga sering kali sulit dibedakan mana mereka yang pintar dan mana yang bloon. Apalagi sepertinya telah menjadi tren, begitu seseorang telah dinobatkan sebagai public figure, lalu merasa diri segalanya dan tahu segalanya. Tiba-tiba artis bicara dan berlagak seperti kiai; kiai berbicara dan berlagak seperti pejabat, pejabat bicara dan berlagak seperti pelawak; pelawak bicara dan berlagak sepeti cendekiawan; cendekiawan bicara dan berlagak seperti artis; atau sebaliknya.

Nah, kalau apa yang saya katakan masuk akal dan tidak berlebih-lebihan, yaitu bahwa pers begitu penting posisi dan perannya maka sudah sewajarnyalah apabila kita mengharap dari kalangan pers –lebih dari yang lain- untuk meningkatkan keakraban mereka dengan nurani-nurani mereka dan mengintensifkan dialog mereka dengan diri-diri mereka sendiri. Tak lebih dari itu. Kita percaya, tentang kode etik dan pers yang berbudaya; tentang keberanian dan kejujuran; tentang integritas dan tanggung jawab; mereka jauh lebih memahami dan mengerti.