Senin, 13 Juni 2016 08:32 WIB

Membuka Warung Saat Puasa

Oleh rike

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 


Gus perkenalkan saya Rike. Saya ingin menanyakan tentang masalah membuka warung pada saat puasa, Gus. Kemarin sempat santer berita razia warung pada saat bulan puasa. Banyak opini bahkan beserta dalil-dalil yang saya sendiri tidak tahu itu benar atau tidak dan saat saya search di Google juga jawabannya kurang memuaskan nurani saya. 

Gus Mus, bukankah semua perbuatan itu tergantung dengan niat? Salahkah bila seseorang membantu orang lain yang tidak berpuasa entah karena non-muslim, ataupun yang berhalangan? termasuk menyuguhkan minuman kepada seorang tamu non-muslim? Bukankah kita diajarkan menghormati tamu? Atau itu hanya berlaku sesama muslim saja? Bahkan seseorang pernah masuk Surga hanya karena memberikan minum pada anjing yang kehausan. 

Apakah manusia yang berbeda kepercayaannya dengan kita lebih rendah dari anjing? Kembali kepada warung Gus, saya banyak membaca bahwa itu tidak diperbolehkan karena membantu mereka melakukan maksiat. Bukankah niat itu hanya Allah dan makhluknya yang tahu, Gus. Bahkan dosa dan pahala bukankah masuk dalam ranah kekuasaan Allah? Tapi kenapa banyak yang mengatakan bahwa itu berdosa? sekali lagi saya merasa nurani saya terusik. 

Saya merasa bahwa Islam itu agama yang paling sempurna, yang paling enak, dan banyak mengajarkan kasih sayang, tapi kenapa malah yang terjadi seakan menunjukkan bahwa seorang muslim itu sempit jalan berpikirnya? Gus, saya mohon jawabannya. Apakah memang saya yang terlalu naif dan begitu bodoh dalam hal agama? apa nurani saya salah berpikir demikian? sekiranya ada artikel yang sudah pernah Gus Mus tuliskan untuk permasalahan ini, apa boleh saya minta bantuan untuk link-nya? terimakasih atas perhatiannya, Gus Mus. Semoga berkenan membantu saya.

Jawaban

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sendiri sependapat dengan Anda. Anda tidak naif. Dulu di kita ini tidak ada ribut-ribut soal warung buka di bulan puasa. Saya pernah mengikuti rombongan  para Kiai Rembang  (Alm. KH. Ngasfani Thoha; Alm. KH. Suyuthi Choli; dan Alm. KH. Cholil Bisri) yang bertakziah wafatnya Kiai Machrus Ali Lirboyo Kediri di bulan Ramadan. Pulangnya, karena kehausan, rombongan mampir di sebuah warung di sebelah barat Kediri. Malah pemilik warungnya yang seperti ketakutan karena kedatangan orang-orang bersorban di siang Ramadan.


Belakangan muncul kelompok beragama yang yang 'dines' yang tampak ingin ngepas-ngepaskan keberagamaannya dengan pemahaman mereka terhadap 'kehendak Allah'. Dan ini dipertajam oleh adanya bibit kebencian terhadap pihak lain yang tidak sependapat atau dan sejalan dengan mereka, baik dalam hal politik maupun yang lain.

Masalah kita saat ini ialah: banyak orang yang bicara agama tanpa nalar dan hanya mengedepankan emosi atau bahkan ikut-ikutan. Sayangnya yang begini ini semakin lama semakin banyak jumlahnya.
Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka dan juga kita ke jalan yang Ia ridhai. Amin.