Menyambut Tahun Baru 2018




اللهم يا نور اخرجنا من الظلمات إلى النور ، يا رحمن يا رحيم ارحمنا...

Ya Allah ya Tuhan kami, ya Mahacahaya, keluarkan kami dengan pancaran cahyaMu dari kegelapan kebodohan ke cahaya kearifan; dari kegelapan kebencian ke cahaya kasih sayang.

يا نور فوق كل النور نور قلوبنا...

Wahai Mahacahaya di atas segala cahaya, pancarkanlah cahayaMu dan jangan sisakan sekelumit pun gelap dalam kalbu kami. Jangan biarkan sirik dan dengki, ujub dan takabur, kebencian dan dendam, dusta dan kemunafikan, dan bayangan-bayangan hitam lainnya menutup pandangan mata batin kami dari keindahan WajahMu; menghalangi kami mendapatkan KasihsayangMu, menghambat sampai kami kepadaMu. Ãmïn

Tetang Azab Allah



TENTANG AZAB ALLAH

oleh KH. A. Mustofa Bisri


قل هو القادر على ان يبعث عليكم عذابا من فوقكم أو من تحت أرجلكم أو يلبسكم شيعا ويذيق بعضكم بأس بعض؛ انظر كيف نصرف الآيات لعلهم يفقهون."
(Q. 6: 65) 

"Katakanlah, Dialah yang kuasa mengirim azab kepadamu, dari atas kamu, atau dari bawah kakimu atau mengacaukan kamu dalam kelompok-kelompok fanatik dan mencicipkan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Lihatlah bagaimana Kami terus mendatangkan berbagai ayat agar mereka mengerti."

1. Perhatikan redaksi ayat di atas. Yang digunakan ialah kata "يبعث" yang berarti "mengirim" (meski ada juga yang tetap menerjemahkannya secara bebas dengan "menurunkan"). Menurutku, "mengirim", tidaklah sekedar menurunkan. Dalam "menurunkan" siksa, hanya menerangkan azab yang (di)turun(kan). Sementara dalam "mengirim azab", kita mendapat pengertian tentang "azab kiriman" yang boleh jadi dikirim begitu saja, atau karena "diminta" oleh yang mendapat kiriman. Dengan kata lain, ada yang 'meminta' kiriman azab.

2. Dari ayat di atas, kita bisa tahu bahwa azab Allah tidak hanya berupa badai, hujan batu, sambaran petir, dan bencana-bencana dari atas kita lainnya; juga tidak hanya gempa, banjir, tanah longsor, dan musibah-musibah lain yang datang dari 'bawah kaki' kita. Tapi yang tak kalah dahsyatnya adalah kekacauan antar kelompok-kelompok di antara kita manusia, dimana masing-masing kelompok menunjukkan keganasannya kepada yang lain.

Wallahu a'lam. Semoga Allah mengampuni kita dan mengampuni para pemimpin kita.

Renungan Rajab



Oleh: KH A Mustofa Bisri

Bisakah kita menjumpai penguasa tertinggi negeri ini, presiden misalnya, atau setidaknya petinggi tertinggi propinsi kita, gubernur, kapan saja kita mau? 

Kalau pun bisa, paling setahun sekali, pada saat diadakan acara open house.
Nah ini Penguasanya petinggi yang Mahatinggi, Penguasa segala, mengadakan open house sehari lima kali. Bukankah ini Kemurahan yang luar biasa bagi hamba sekecil kita ini? Bahkan tidak itu saja. Ia bahkan membuka pintu untuk kita kapan saja. Tengah malam atau dini hari sekali pun, Ia menerima pesowanan kita. Malah menawarkan, "Adakah yang punya hajat? Adakah yang memohon ampun? Adakah yang ingin meminta sesuatu?"

Lalu bagaimana kita yang kerdil ini menyikapi KemahamurahanNya itu? Apakah kita penuh semangat menghadap, sebagaimana misalnya bila kita diterima presiden atau gubernur?