Akar Masalah



Oleh: KH A Mustofa Bisri

Menanggapi situasi  kehidupan berbangsa  di tanah air, tentunya terutama setelah terkuaknya praktek Gayusisasi dan munculnya ‘fatwa kebohongan’ dari para tokoh lintas agama, baru-baru ini Akademisi dari beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta  serta tokoh agama di Jawa Timur mendeklarasikan Gerakan Anti bohong di Universitas Muhammadiyah Surabaya.  Kebiasaan berbohong dinilai menjadi akar masalah dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.
                
Pencanangan gerakan itu  ditandai dengan penyematan pin bertuliskan “Stop bohong: Tidak bohong adalah Karakter Pribadi Saya”. Selain itu, komitmen dukungan pada pada gerakan dilakukan dengan menandatangani dua spanduk masing-masing sepanjang 7 meter.
                
Gerakan yang digagas para Akademisi  ini merupakan salah satu upaya bagi ikut memperbaiki kondisi tanah air yang memprihatinkan  dewasa ini melalui perbaikan karakter bangsa. Dimulai dari mengubah pekerti umum  bohong menjadi  jujur.  Sebagai salah satu upaya memperbaiki  karakter dan moral bangsa,  gerakan ini baik sekali dan perlu didukung.
                
Mungkin  gerakan ini –terutama bila disepakati dan didukung  banyak pihak-- bisa menurunkan tingkat kebohongan, namun apakah dalam saat yang sama masalah dalam kehidupan berbangsa ini akan terpecahkan atau sedikit  saja terpecahkan?  Untuk menjawab ini,  mungkin  kita perlu kembali kepada pertanyaan yang  lebih awal:  sudah tepatkah menganggap kebiasaan berbohong sebagai akar masalah dalam kehidupan berbangsa di negeri ini?
                
Saya sendiri kurang sependapat bila kebiasaan berbohong  dinilai sebagai akar atau pokok pangkal masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Menurut saya, kebiasaan bohong, sama dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain seperti  mengkhianati amanat;  merampas hak orang lain; ngawur;  menyepelekan hukum;  tak punya malu;  menjilat yang di atas; menginjak yang di bawah; mementingkan diri sendiri;  dlsb, ‘hanyalah’ dampak. Bukan akar masalah.  Kebiasaan-kebiasaan ini tentu masih memerlukan pertanyaan: mengapa ada kebiasaan-kebiasaan  buruk seperti itu?
                
Mengapa  misalnya,  orang berbohong? Orang berbohong bisa karena takut atau karena  sesuatu pamrih. Kalau seseorang bohong karena takut, takut apa? Kalau karena pamrih, pamrih apa? Mengapa orang yang mengkhianati  amanat? Mengapa  orang tega merampas hak orang lain? Mengapa orang ngawur ? Demikian seterusnya. Dalam kaitan dengan masalah yang melilit bangsa kita dewasa ini, pertanyaan-pertanyaan itu bisa  menggiring kepada jawaban terakhir yang  menurut saya, ialah akar masalah. Apa itu?
                
Menurut saya akar masalah itu berawal dari bergesernya pandangan hidup kita, terutama konsep kita tentang kehidupan dunia ini. Dulu orang Jawa, misalnya, mempunyai falsafat “Hidup di dunia ini hanyalah ibarat mampir ngombe, mampir minum.”  Ini hampir senada dengan anjuran Nabi Muhammad SAW, “Kun fiddunya kaannaka ghariibun au ‘aabiru sabiil” ,  Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah orang  asing atau penyeberang jalan.” Karena pandangan hidup inilah, kesederhanaan hidup menjadi sebuah anutan masyarakat .  Sisa-sisa budaya kesederhanaan ini masih  bisa dijumpai –meski sudah mulai langka—di desa-desa.
                
Ironinya, falsafat Jawa “mampir ngombe” yang agamis itu, mulai tampak  terabaikan lalu seperti dilupakan sejak kekuasaan ‘raja Jawa’ Suharto.  Entah disadari atau tidak, dalam masa kekuasaannya yang sekian lama; Suharto laiknya pendidik yang genial telah berhasil mendidik  bangsa ini untuk mencintai kehidupan duniawi  sedemikian rupa, sehingga nyaris tak ada lagi warga negeri ini yang memandang kehidupan duniawi ini biasa-biasa saja. Yang kalau pun menganggap penting, hanyalah sekedar  sebagai wasilah  atau sarana bagi kehidupan yang lebih esensial dan abadi di akherat.
Semua orang seolah-olah berlomba untuk menjadi orang kaya seperti pendidik dan panutannya itu. Harta dan kekuasaan pun menjadi idaman dan kepentingan setiap orang.
                
Dari idaman, harta dan kekuasaan,  naik menjadi pujaan, lalu menjadi  kepentingan; kemudian menjadi Tuhan. Ketika kepentingan duniawi menjadi Tuhan, maka Tuhan Yang Maha Esa pun menjadi Kesetanan yang Maha Perkasa. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi Kebinatangan yang Degil dan biadab. Persatuan Indonesia menjadi Persetruan Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  permusyawarata/perwakilan menjadi Kekuasaan yang dipimpin oleh nikmat kepentingan dalam perkerabatan/perkawanan dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pun menjadi  Kelaliman sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
                
Telusurilah  semua perangai aneh  yang membuat kerusakan di negeri ini, seperti misalnya, penegak hukum yang justru  melecehkan hukum dan  preman yang mengatur  keamanan atau mengatur  pengadilan.  Hal-hal yang  mengakibatkan  hukum tidak dihargai, banyak orang main hakim sendiri,  dan kerugian negara yang tak terkira. Seperti juga pemimpin yang bertikai dengan sesama pemimpin;  wakil rakyat yang tak pernah memikirkan rakyat dan hanya memikirkan diri sendiri;  yang berakibat krisis kepercayaan. Maling  yang memegang  jabatan-jabatan  penting sehingga mengakibatkan kerusakan dimana-mana.  Belum lagi  perangai-perangai  ganjil masyarakat kita seperti  orang tua yang  menjual anaknya sendiri;  menantu yang mencekik mertuanya; anak-anak  yang bunuh diri;  dan sebagainya ,  dan seterusnya.  Bila anda telusuri  perangai-perangai  aneh  yang berakibat  buruk itu,  akan anda temukan bahwa yang mengatur semua itu adalah ‘tuhan’ yang namanya kepentingan duniawi tersebut.
                
Maka menurut saya,  kita perlu –seperti pernah saya tulis belasan tahun yang lalu-- melakukan revolusi mental. Mengembalikan konsep kita tentang kehidupan dunia ini seperti semula. Memandang dunia dan materi ini biasa-biasa saja. Kalau pun menganggap penting, ya secara proporsional. Tidak berlebih-lebihan.  Kalau perlu kita –meniru para Akademisi dan tokoh agama di Jawa Timur itu--  juga membuat gerakan. Misalnya membuat Gerakan Hidup sederhana. Dengan meluncurkan kaos-kaos dan pin-pin bertuliskan, misalnya: “Gerakan Hidup Sederhana. Stop Berlebih-lebihan Menyintai Dunia dan Materi!”.
                
Bagaimana?



Pemimpin yang Rendah Hati




Oleh KH A Mustofa Bisri

Suatu ketika seorang laki-laki menghadap Nabi Muhammad SAW dan gemetaran –oleh wibawa beliau-- saat berbicara. Nabi SAW pun berkata menenangkan: “Tenang saja! Aku bukan raja. Aku hanyalah anaknya perempuan Qureisy yang biasa makan ikan asin.” (Dalam hadisnya, menggunakan kata qadiid yang maknanya dendeng, makanan sederhana di Arab. Saya terjemahkan dengan ikan asin yang merupakan makanan sederhana di Indonesia).
***
Ketika Rasulullah SAW datang di Mekkah, setelah sekian lama hijrah, sahabat Abu Bakar Siddiq r.a. sowan bersama ayahandanya, Utsman yang lebih terkenal dengan julukan Abu Quhaafah. Melihat sahabat karib sekaligus mertuanya bersama ayahandanya itu, Rasulullah SAW pun bersabda “Wahai Abu Bakar, mengapa Sampeyan merepotkan orang tua? Mengapa tidak menunggu aku yang sowan beliau di kediamannya?”
***
Sahabat Abdurrahman Ibn Shakhr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah r.a. bercerita: “Suatu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah berhenti, membeli celana dalam dan berkata: ‘Pilihkan yang baik lho!’ (Terjemahan dari aslinya: Rasulullah bersabda kepada si tukang timbang, ‘Timbang dan murahin – bahasa Jawa: sing anget—‘. Boleh jadi waktu itu, beli celana pun ditimbang). Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celana pun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda: ‘Itu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja. Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu.’ Kemudian beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi beliau buru-buru bersabda: ‘Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya.’”
***

Itu beberapa cuplikan yang saya terjemahkan secara bebas dari kitab Nihayaayat al-Arab-nya Syeikh Syihabuddin Ahmad Ibn Abdul Wahhab An-Nuweiry (677-733 H) jilid ke 18 hal 262-263. Saya nukilkan cuplikan-cuplikan kecil itu untuk berbagi kesan dengan Anda. Soalnya saya sendiri, saat membacanya, mendapat gambaran betapa biasa dan rendah hatinya pemimpin agung kita Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering naik atau membonceng kendaraan paling sederhana saat itu; yaitu keledai. Rasulullah SAW suka menyambangi dan duduk bercengkerama dengan orang-orang fakir-miskin. Menurut istri terkasih beliau, sayyidatina ‘Aisyah r.a dan cucu kesayangan beliau Hasan Ibn Ali r.a, Rasulullah SAW mengerjakan pekerjaan rumah; membersihkan dan menambal sendiri pakaiannya; memerah susu kambingnya; menjahit terompahnya yang putus; menyapu dan membuang sampah; memberi makan ternak; ikut membantu sang istri mengaduk adonan roti; dan makan bersama-sama pelayan.

Sikap dan gaya hidup sederhana sebagaimana hamba biasa itu agaknya memang merupakan pilihan Rasulullah SAW sejak awal. Karena itu dan tentu saja juga karena kekuatan pribadi beliau, bahkan kebesaran beliau sebagai pemimpin agama maupun pemimpin Negara pun tidak mampu mengubah sikap dan gaya hidup sederhana beliau. Bandingkan misalnya, dengan kawan kita yang baru menjadi kepala desa saja sudah merasa lain; atau ikhwan kita yang baru menjadi pimpinan majlis taklim saja sudah merasa beda dengan orang lain.

Memang tidak mudah untuk bersikap biasa; terutama bagi mereka yang terlalu ingin menjadi luar biasa atau mereka yang tidak tahan dengan ‘keluarbiasaan’. Apalagi sering kali masyarakat juga ikut ‘membantu’ mempersulit orang istimewa untuk bersikap biasa. Orang yang semula biasa dan sederhana; ketika nasib baik mengistimewakannya menjadi pemimpin, misalnya, atau tokoh berilmu atau berada atau berpangkat atau terkenal, biasanya masyarakat di sekelilingnya pun mengelu-elukannya sedemikian rupa, sehingga yang bersangkutan terlena dan menjadi tidak istimewa. Keistimewaan orang istimewa terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh keistimewaannya itu. Keistimewaan khalifah Allah terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh kekhalifahannya, mampu menjaga tetap menjadi hamba Allah.

Keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin antara lain karena beliau tidak terlena dan terpengaruh oleh keistimewaannya sendiri. Kita pun kemudian menyebutnya sebagai pemimpin yang rendah hati.

Nabi Muhammad SAW adalah contoh paling baik dari seorang hamba Allah yang menjadi khalifahNya. Beliau sangat istimewa justru karena sikap kehambaannya sedikit pun tidak menjadi luntur oleh keistimewaannya sebagai khalifah Allah.

Selawat dan salam bagimu, ya Rasulallah, kami rindu!



Amalan Yang Lebih Baik

Oleh: KH A Mustofa Bisri

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Orangtua

melebihi mengasihi dan mengasuh anak-anaknya dengan keteladanan.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pelajar

melebihi belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pengajar

melebihi mengajar dengan tulus dan ikhlas.

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pendidik

melebihi mendidik dengan penuh kasih sayang.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pekerja

melebihi bekerja dengan kesungguhan dan tanggungjawab.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Petani

melebihi bertani dengan giat dan tekun.

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pejabat

melebihi melaksanakan amanat dengan amanah.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pemimpin

melebihi memimpin dengan cinta dan kepedulian.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi .... melebihi ....

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Hamba Allah

melebihi menghamba (beribadah) semata-mata kepadaNya.

 

Wallãhu a'lam bish-shawãb.