Amalan Yang Lebih Baik

Oleh: KH A Mustofa Bisri

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Orangtua

melebihi mengasihi dan mengasuh anak-anaknya dengan keteladanan.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pelajar

melebihi belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pengajar

melebihi mengajar dengan tulus dan ikhlas.

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pendidik

melebihi mendidik dengan penuh kasih sayang.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pekerja

melebihi bekerja dengan kesungguhan dan tanggungjawab.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Petani

melebihi bertani dengan giat dan tekun.

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pejabat

melebihi melaksanakan amanat dengan amanah.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Pemimpin

melebihi memimpin dengan cinta dan kepedulian.

Tidak ada amal yang lebih baik bagi .... melebihi ....

 

Tidak ada amal yang lebih baik bagi Hamba Allah

melebihi menghamba (beribadah) semata-mata kepadaNya.

 

Wallãhu a'lam bish-shawãb.

 

KEKELOMPOKAN JAHILIAH



KEKELOMPOKAN JAHILIAH
oleh KH. A Mustofa Bisri

Seperti diketahui, sebelum kedatangan Islam, khususnya masyarakat Arab sangat terkenal dengan budaya pengelompokan kabilah, klan, suku dengan tingkat fanatisme yang luar biasa. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tetapi sering kali sambil merendahkan kelompok yang lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’; Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati. Inilah yang disebut ‘ashabiyah. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah diantara mereka, umumnya diakibatkan oleh ‘ashabiyah atau fanatisme kelompok ini.

Persoalan sepele bisa menjadi api penyulut peperangan besar apabila itu menyangkut kehormatan atau kepentingan kelompok. Pertengkaran pribadi antar kelompok dapat dengan cepat membakar emosi seluruh anggota masing-masing kelompok oleh apa yang disebut kecam Nabi Muhammad s.a.w.  dengan Da’wa ‘l-jahiliyyah, masing-masing pihak yang bertengkar memangggil-manggil meminta bantuan kelompoknya. Pertengkaran pribadi pun menajdi peperangan antar kelompok.

Itulah salah satu “kegelapan” Jahiliah yang diperjuangkan Rasululllah s.a.w. untuk dikuakkan oleh cahaya Islam.

Nabi Muhammad s.a.w., Nabi Kasih Sayang yang membawa agama kasih sayang, memperkenalkan kehidupan kemanusiaan yang mulia. Nabi mengingatkan bahwa seluruh manusia berasal dari bapak yang satu, yaitu Adam. Taka da seorang atau sekelompok pun manusia yang lebih mulia dari orang lain. Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non-Arab. Kulit putih tidak lebih mulia dari kulit hitam. Yang termulia diantara mereka di hadapan Allah adalah yang paling takwa kepada-Nya.

Mereka yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah berarti dia telah masuk Islam dan disebut Muslim. Muslim satu dengan yang lain --menurut Nabi Muhammad s.a.w-- bersaudara; tidak boleh saling menghina, tidak boleh saling menjengkelkan, tidak boleh saling melukai. Masing-masing harus menjaga nyawa, kehormatan, dan harta saudaranya. Muslim satu dengan yang lain ibarat satu tubuh atau satu bangunan.

Demikianlah, panutan agung semua orang yang mengaku muslim, Nabi Muhammad s.a.w., mempersaudarakan umat Islam di Madinah antara mereka yang berasal dari suku-suku asli Madinah (kelompok Ansor dari Khazraj dan Aus) dan para pendatang dari Mekkah (kelompok Muhajirin dari berbagai suku) dan mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Madinah yang nonmuslim. Dengan demikian, kedegilan ‘ashabiyah Jahiliyah yang selama ini berakar kuat pun sirna, digantikan oleh kearifan akal budi kemanusiaan yang mulia.

Memang adakalanya penyakit ‘ashabiyah itu nyaris muncul lagi, tetapi  kebijaksanaan Rasulullah s.a.w. segera menangkalnya sejak gejalanya yang paling dini, seperti peristiwa yang terjadi setelah Perang Bani Musthaliq pada tahun kelima hijrah. Waktu itu, seorang buruh yang bekerja pada Sahabat Umar Ibn Khattab (dari Muhajirin) berkelahi dan memukul seorang sobat suku Khazraj. Orang ini pun berteriak memanggil-manggil dan meminta bantuan kelompok Khazraj, sementara si buruh pun berteriak-teriak meminta bantuan kaum Muhajirin. Hampir saja terjadi tawuran antara kedua kelompok itu. Untung Rasulullah segera keluar. Sabdanya, “Maa baalu da’waa ‘l-Jahiliyah?’’ (“Lho, mengapa ada seruan model jahiliah?”). Ketika diberi tahu duduk perkaranya, Rasulullah s.a.w pun bersabda. “Tinggalkan perilaku jahiliyah itu! Itu busuk baunya!” Rasulullah meleraikan mereka dengan adil. Malapetaka pun terhindarkan.

Fanatisme, terutama dalam pengertiannya yang ekstrem, sering menghilangkan penalaran sehat sebab memang emosi yang lebih berkuasa. Puncaknya –apabila emosi sudah sangat menguasai—orang yang bersangkutan pun tidak mampu lagi melihat dan mendengar, shummum bukmun ‘umyun. Itulah barangkali sebabnya, orang yang terlalu fanatik terhadap kelompoknya tidak bisa objektif dan cederung tidak bisa diajak bicara oleh kelompok yang lain.

Di negeri kita yang bukan Arab, khususnya di zaman pasca orde baru ini, penyakit semacam ‘ashabiyah Jahiliyah itu rupanya juga mulai mewabah. Bukan kelompok suku dan agama saja yang difanatiki berlebihan, bahkan kelompok politik pun sudah cenderung difanatiki melebihi agama. Lebih celaka lagi – agaknya karena pemahaman soal politik dan demokrasi yang masih cingkrang di satu pihak, dan pemahaman atau penghayatan agama yang dangkal di lain pihak – fanatisme kelompok politik ini membawa-bawa agama. Maka campur-aduklah antara kepentingan agama, kepentingan politik dan nafsu. Tidak jelas lagi apakah kepentingan politik mendukung agama; atau agama mendukung kepentingan politik; ataukah justru politik dan agama mendukung nafsu. Bahkan banyak mubalig atau da’i – yang seharusnya meneruskan missi kasih sayang Rasulullah s.a.w. – entah sadar atau tidak, justru lebih mirip jurkam atau malah provokator yang tidak merasa risi mengeluarkan kata-kata kotor yang sangat dibenci oleh Nabi mereka sendiri.

Itu semua ditambah kita ini sejak zaman kerajaan, zaman penjajahan zaman Orla, hingga zaman Orba, tidak dididik untuk dapat berbeda, sebagai pelajaran awal berdemokrasi. Malah didikan yang kita terima terus menerus adalah keharusan seragam. Akibatnya, ketika ‘eoforia demokrasi’ marak mengiringi tumbangnya rezim Soeharto yang otoriter, orang hanya berfikir mendirikan partai tanpa sempat memikirkan kaitannya partai dengan kehidupan berdemokrasi yang menunut sikap menghargai perbedaan. ‘Ashabiyah Jahiliah pun menemukan bentuknya yang lebih busuk, bahkan di kalangan kaum beragama,

Kalau ini tidak cepat disadari, khususnya oleh para pemimpin, umumnya para pendukung kelompok atau partai minimal mereka yang masih mengakui Allah sebagai Tuhan merekadan Sayidina Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan pemimpin agung mereka, saya hawatir memang azablah yang sedang menimpa kita. Dan, azab itu hanya Allah yang maha kuasa menimpakan dan menghilangkannya. “Qul Hual Qoodiru ‘alaa ‘an yab’atsa ‘alaikum ‘azaaban…” (Q.S. 6:65), “Katakanlah (Muhammad,)  `Dialah yang berkuasa mengirimkan azab dari atas kalian atau dari bawah kalian, atau Dia mengacaukan kalian dalam kelompok-kelompok (fanantik yang saling bertentangan) dan mencicipkan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain…”

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus, mengikuti jejak rasul-Nya yang berbudi dan mulia. Amin.

 

Seandainya Orang Tolol Mau Diam



Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yaqul khairan au liyasmut!” (Barang siapa sudah beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah berkata yang baik atau sebaiknya diam).

Memang bicara dan diam ada tempatnya masing-masing. Diam pada saat harus bicara, mungkin sama buruknya dengan bicara pada saat harus diam. Sebaiknya kita memang harus tahu kapan kita mesti diam dan kapan mesti bicara. Kalau tidak, salah-salah bisa celaka. Antara lain karena kita diam pada saat mestinya harus bicara, maka kemungkaranpun terus berlangsung di negeri kita bertahun-tahun dan mengakibatkan kerusakan negeri yang begitu parah. Namun sebaliknya, seringkali diam justru jauh lebih bermanfaat ketimbang bicara. Bahkan tidak jarang bicara justru menimbulkan bencana, tidak hanya bagi orang yang bersangkutan, tetapi juga kepada orang-orang lain. Perkelahian bahkan peperangan bisa terjadi akibat omongan yang salah. 

Dulu di majelis penguasa yang agung, ketika semua orang yang hadir angkat bicara dan umumnya memuji-muji sang penguasa, seorang arif yang ikut hadir dalam majelis itu hanya diam saja. Sehingga akhirnya sang penguasa pun bertanya, “Mengapa dari tadi kau diam saja, tidak ikut bicara seperti yang lainnya?”

Orang arif itu pun menjawab, “Aku dari tadi diam, karena sedang mempertimbangkan dua hal yang sama-sama berat. Apakah aku akan bicara bohong seperti mereka untuk menyenangkan Anda, atau bicara jujur dan membahayakan diri saya sendiri.”

Orang bijak menasihati kita, kalau kita akan bicara sebaiknya dipikirkan dulu, agar bicara kita tidak meingbulkan hal-hal yang negatif. Tapi orang tolol biasanya malas berfikir, karena itu lebih dianjurkan untuk diam saja.