Mempersulit Agama

MEMPERSULIT AGAMA

oleh KH A Mustofa Bisri

Boleh jadi terpengaruh oleh ajaran agama lain, banyak di antara umat islam --termasuk yang dianggap pemimpin--   mempunyai anggapan dalam soal agama, bahwa semakin sulit dan berat, semakin baik dan banyak pahalanya. Dalam hal bacaan; semakin panjang, semakin baik dan banyak pahalanya.

Karena pandangan itu --entah disadari atau tidak—ada atau banyak orang yang berpuasa tiidak segera berbuka atau tidak makan sahur. Bahkan ada yang namanya puasa pati geni, tidak berbuka tidak sahur. Padahal puasa dalam islam yang terbaik adalah yang cepat-cepat berbuka (ta’jilul futhur) dan mengakhirkan sahur (taa’khiirus sahuur).

Boleh jadi karena ini pula banyakkhatib yang khotbahnya panjang-panjang hingga membuat jama’ah tertidur. Padahal khotbah yang afdol menurut ajaran dan yang dicontohkan Pemimpin Agung RasuluLlah SAW ialah khotbah yang singkat dan tidak bertele-tele.

Saya kira tidak terle[as dari pandangan ini pula, adanya banyak orang yang ‘mati-matian’ berusaha mencium Hajar Aswad ketika berhaji, bahkan sampai menyodok dan menyikut kiri-kanan. Padahal mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya sunnah; sementaramenyodok dan menyikuti saudara-saudara sesama hamba Allah hukumnya haram.

Ada juga orang-orang islam yang tidak hanya mempersulit diri sendiri dalam beragama, tapi juga mempersulit orang lain. Misalnya, ketika bulan Ramadan, tidak hanya melaksanakan kewajiban berpuasa. Tapi juga melakukan kegiatan-kegiatan mendorong orang lain untuk menghormati bulan Ramadan; bahkan ada yang maunya menutup warung-warung makan. Padahal tidak semua orang islam berpuasa di bulan suci itu (misalnya perempuan yang dating bulan dan musafir)

Kadang-kadang karena keinginan ngepas-ngepaskan ibadah, orang sampai melupakan mana yang hak Allah dan mana yang hak Adami. Tidak bisa membedakan mana yang semangat agama dan mana yang nafsu. Kita misalnya, sering menyaksikan sesama muslim bertengkar soal Ied, hari raya. Kebetulan di negeri kita ini paling sering terjadi hari raya ‘double’. Kelompok ini hari ini, kelompok itu hari itu. Dalam menyikapi hal ini, kita tidak malah bersyukur punya dua hari raya; tapi berselisih dengan sesama musim. Padahal I’ed atau hari raya ini merupakan hak Allah.

Pendek kata, Anda bisa melihat banyak praktik keberagamaan umat islam yang terkesan memperberat agama. Padahal Allah SWT sendiri berkali-kali menegaskan di dalam kita suciNya bahwa Iaa sama sekali tidak menjadikan suatu kesempitan dalam agama; tidak membebani hamba-hambaNua di luar kemampuan mereka; dan Ia benar-benar tidak ingin mempersulit mereka (baca misalnya, Q 2: 185, 233, 286; Q. 6: 152; Q. 7:42; Q. 22:78; Q. 23:62). Sementara Rasulullah SAW sendiri dalam hadis shahieh riwayat Imam Bukhari yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah r.a jelas-jelas menyatakan bahwa agama itu sebenarnya mudah. 

Sang Pemimpin



Sang Pemimpin

oleh : KH. A. Mustofa Bisri

Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?”

Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.”
“Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.

Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.”

***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda?
Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu.

Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu?

Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.

***
Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?”

Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya ’ kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.

***
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.

***
Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.”

“Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’”

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu.

Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini.
Amin.

Khauf dan Rajaa (Cemas dan Harap)

Allah SWT, sebagaimana Dia sebutkan sendiri dalam Kitab Sucinya, adalah Ghafuur Rahiim, Maha Pengampun dan Maha Pengasih; tapi juga Syadiidul 'Iqãb, Mahadahsyat hukumanNya. 

Entah bermula dari kenyataan ini atau tidak, yang jelas terdapat perbedaan dalam pendekatan hamba-hambaNya terhadapNya. Ada yang pendekatannya CINTA ada yang pendekatannya TAKUT. Umumnya orang-orang sufi, seperti dicontohkan oleh sufi perempuan dari Basrah Rãbi'ah 'Adawiyah, pendekatannya adalah Cinta. Mereka beribadah dan bersujud kepadaNya karena cinta. Sementara umumnya orang-orang fikih, berpendekatan Takut. Mereka takut kepada Allah, maka mereka menyembah dan bersujud kepadaNya. 
Aku katakan "umumnya" karena dari kalangan sufi ada juga yang berpendekatan Takut; sebaliknya di kalangan ahli fikih ada juga yang berpendekatan Cinta.

Tapi selalu ada saja yang berlebih-lebihan dengan pendekatannya. Ada yang berlebihan takut sehingga melupakan kemurahanNya; bahkan sampai menakut-nakuti sesama hamba. Sebaliknya ada yang berlebihan memandang keagungan rahmat dan pengampunanNya, hingga sembrono dan berlaku sambalewa.

Terlepas dari adanya dua pendekatan ini, kenyataan bahwa Allah itu Ghafuur Rahiim dan sekaligus Syadiidul 'iqãb, telah 'melahirkan' konsep sikap KHAUF(Cemas)-RAJÃA(Harap). InsyãAllah dari sinilah munculnya ungkapan dalam bahasa Indonesia "harap-harap cemas". Orang beriman selalu berada di antara Kecemasan dan Harapan. Cemas TIDAK MENDAPAT dan berharap MENDAPAT rahmat dan ampunanNya. Orang beriman tidak boleh PUTUS HARAPAN, tapi juga tidak boleh HANYA MENGANDALKAN HARAPAN.

Intinya, sebagaimana ajaran dasar dan umum Islam, kita hendaklah selalu bersikap tengah-tengah (tawassuth). Tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.

Wallahu a'lam bish-shawãb.