Jumat, 03 Februari 2017 08:50 WIB

Adil Memang Sulit, Tapi Harus!



Adil Memang Sulit, Tapi Harus!

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Sebagai sikap dan laku, adil mungkin termasuk yang paling sulit. Soalnya karena adil itu jejeg, tegak lurus, tidak condong dan tidak miring ke sana-kemari. Sementara kita sebagai manusia, dari sononya memiliki ‘athifah atau emosi yang bawaannya mirang-miring kesana kemari.

ِApalagi dalam dan di sekeliling kehidupan kita banyak faktor yang mempengaruhi kita, yang mendorong kesana atau menarik kemari. Kita mencintai dan senang, condong kemari; kita marah dan benci, miring kesana. 

Hakim yang sedang marah atau benci kepada seseorang, katakanlah si Fulan, misalnya, jangan suruh ia mengadili si Fulan itu. Karena hampir dipastikan si hakim tidak bisa berlaku adil dan jejeg. (Ingat kasus hakim yang diberhentikan gara-gara memvonis maling arloji dengan hukuman maksimal, lantaran gregetan; pasalnya yang dicuri si maling adalah arloji beliau). Demikian pula bila seorang hakim –karena sesuatu hal-- sangat senang kepada si terdakwa, bisa ditebak putusannya akan tidak adil. 

Bagaimana pun sulitnya, kita semua tahu bahwa bersikap dan berlaku adil adalah sangatlah penting dalam kehidupan kita. Maraknya kasus-kasus mulai dari korupsi, main hakim sendiri, perkelahian ‘antar pemain’, krisis kepercayaan, hingga tindak kekerasan dan terorisme; misalnya, jika ditelusuri, sumbernya tidak lain adalah ketidak-adilan. Itulah sebabnya –wallahu a’lam—Allah SWT dalam kitab sucinya Al-Quran sering menegas-tekankan pentingnya bersikap dan berlaku adil (lebih dari 30 ayat!). Bahkan perintah menegakkan kebenaran dan bersaksi pun diberi catatan: harus dengan adil (Q. 4: 135; 5: 8). Bahkan Allah wanti-wanti: “Walaa yajrimannakum syana-aanu qaumin anlaa ta’diluu; i’diluu huwa aqrabu littaqwa…”(Q.5: 8) “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufassir ‘kaum’ disini yang dimaksud adalah orang-orang kafir!) menyeretmu untuk berlaku tidak adil; berlaku adillah! Itu lebih dekat kepada takwa…” 

Pastilah antara lain karena pentingnya sikap dan laku adil ini pula, konon sang Khalifah Adil Umar ibn Abdul Aziz mentradisikan dalam akhir khotbah Jum’at dibacanya ayat Q.16: 90. “InnaLlaha ya’muru bil’adli…”. 

Berlaku adil tentu tidak hanya dituntut dari pihak penguasa dan penegak hukum saja, tapi juga dari kita semua, terutama yang merasa mendapat firman dari Allah dan mempercayainya. Namun, seperti disinggung di atas, bersikap dan berlaku adil memang hanya gampang diucapkan. Untuk mempraktekkannya sangat sulit. 
Sering kali kita menuntut perlakuan adil dari pihak lain, namun sering kali juga kita tidak sadar telah berlaku tidak adil terhadap pihak lain. Adil, jejeg, mengandung pengertian objektif, i’tidaal, proporsional, tawaazun. Ketika ada seorang oknum polisi yang doyan sogok, misalnya, lalu kita mengatakan semua polisi doyan sogok. Ucapan kita ini jelas tidak benar dan tidak adil. Sama dengan tidak benar dan tidak adilnya orang yang mengatakan bahwa pesantren adalah sarang teroris, hanya karena ada oknum pengamat yang menulis bahwa ada peran alumni pesantren dalam aksi terror dan pernyataan oknum pejabat tinggi yang sembrono menyatakan bahwa aktifitas pesantren harus diawasi. 

Di mana-mana – di negara, di bangsa, di kalangan umat beragama, bahkan di organisasi mana pun—selalu ada orang atau kelompok yang buruk di samping yang baik-baik; ada yang jahat di samping yang saleh-saleh; ada yang tolol di samping yang berakal sehat. Di Indonesia -- negeri yang disebut-sebut tercatat sebagai salah satu negara terkorup di dunia-- misalnya, meski ada Edy Tanzil dan sekian ribu koruptor (yang konangan maupun yang tidak), pastilah masih banyak orang-orang yang lurus sebagai mayoritas bangsa. Sangat tidak adil bila dikatakan bangsa Indonesia adalah bangsa maling. Apalagi yang dirugikan oleh –atau kasarnya: yang dimalingi-- para koruptor itu justru mayoritas bangsa Indonesia sendiri. Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu tersinggung dan marah disebut bangsa maling. 
Meskipun ada beberapa orang Islam yang ngebom dan melakukan aksi terror, kita sebagai umat Islam tentu tersinggung dan marah bila dikatakan bahwa orang Islam tukang ngebom; apalagi dikatakan bahwa agama Islam adalah agama kekerasan dan terror. 

Analog dengan itu saya kira sama dengan misalnya, melihat Amerika . Meski di negeri paman Sam itu ada orang zalim bermuka dua yang bernama George W. Bush dan sekian pemimpin pemerintahan bahkan juga sekian banyak rakyatnya yang adigang-adiguna, adalah tidak adil apabila kita kemudian menafikan adanya orang-orang lurus dan berakhlak --termasuk sekitar 5,5 juta warga yang beragama Islam-- di Amerika; dan mengatakan secara gebyah uyah: bangsa Amerika adalah bangsa yang jahat, kafir, dan zalim. 

Demikian pula di Denmark. Meski ada kartunis dan sekian redaktur tolol di harian Jyllands-Posten yang mempublikasikan kartun Nabi Muhammad SAW yang diagungkan umat Islam; adalah tidak adil jika kemudian kita mengecap Denmark sebagai negara tolol dan bangsanya adalah bangsa tolol yang memusuhi Islam. Dalam kaitan ini, adalah menarik apa yang ditulis kolomnis Abdullah Bijad al’Utaiby di harian Ar-Riyadh. Tulisnya antara lain: “Adalah hak kita untuk marah karena Rasul kita yang mulia dilecehkan; dan adalah hak kita untuk mengungkapkan kemarahan kita secara berbudaya seperti pemutusan hubungan perdagangan, namun jangan sampai kemarahan itu berkembang ke arah kekerasan dan pembunuhan; jangan sampai memberi peluang ‘orang-orang menyusupkan racun dalam makanan’. Tujuan kita harus jelas. Bukan marah sekedar marah.” 

Benar kan, adil itu sulit? Tapi sangat penting dan harus. Karena itulah kita dianjurkan untuk saling menasehati, saling beramar-makruf-nahi-munkar, dan saling membantu dalam kebajikan, termasuk membiasakan memandang sesuatu tidak hanya secara ‘hitam-putih’ dan membiasakan berlaku adil. Wallahu a’lam