Minggu, 26 Februari 2017 15:57 WIB

Akar Masalah




Oleh: KH A Mustofa Bisri

Menanggapi situasi  kehidupan berbangsa  di tanah air, tentunya terutama setelah terkuaknya praktek Gayusisasi dan munculnya ‘fatwa kebohongan’ dari para tokoh lintas agama, baru-baru ini Akademisi dari beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta  serta tokoh agama di Jawa Timur mendeklarasikan Gerakan Anti bohong di Universitas Muhammadiyah Surabaya.  Kebiasaan berbohong dinilai menjadi akar masalah dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.
                
Pencanangan gerakan itu  ditandai dengan penyematan pin bertuliskan “Stop bohong: Tidak bohong adalah Karakter Pribadi Saya”. Selain itu, komitmen dukungan pada pada gerakan dilakukan dengan menandatangani dua spanduk masing-masing sepanjang 7 meter.
                
Gerakan yang digagas para Akademisi  ini merupakan salah satu upaya bagi ikut memperbaiki kondisi tanah air yang memprihatinkan  dewasa ini melalui perbaikan karakter bangsa. Dimulai dari mengubah pekerti umum  bohong menjadi  jujur.  Sebagai salah satu upaya memperbaiki  karakter dan moral bangsa,  gerakan ini baik sekali dan perlu didukung.
                
Mungkin  gerakan ini –terutama bila disepakati dan didukung  banyak pihak-- bisa menurunkan tingkat kebohongan, namun apakah dalam saat yang sama masalah dalam kehidupan berbangsa ini akan terpecahkan atau sedikit  saja terpecahkan?  Untuk menjawab ini,  mungkin  kita perlu kembali kepada pertanyaan yang  lebih awal:  sudah tepatkah menganggap kebiasaan berbohong sebagai akar masalah dalam kehidupan berbangsa di negeri ini?
                
Saya sendiri kurang sependapat bila kebiasaan berbohong  dinilai sebagai akar atau pokok pangkal masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Menurut saya, kebiasaan bohong, sama dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain seperti  mengkhianati amanat;  merampas hak orang lain; ngawur;  menyepelekan hukum;  tak punya malu;  menjilat yang di atas; menginjak yang di bawah; mementingkan diri sendiri;  dlsb, ‘hanyalah’ dampak. Bukan akar masalah.  Kebiasaan-kebiasaan ini tentu masih memerlukan pertanyaan: mengapa ada kebiasaan-kebiasaan  buruk seperti itu?
                
Mengapa  misalnya,  orang berbohong? Orang berbohong bisa karena takut atau karena  sesuatu pamrih. Kalau seseorang bohong karena takut, takut apa? Kalau karena pamrih, pamrih apa? Mengapa orang yang mengkhianati  amanat? Mengapa  orang tega merampas hak orang lain? Mengapa orang ngawur ? Demikian seterusnya. Dalam kaitan dengan masalah yang melilit bangsa kita dewasa ini, pertanyaan-pertanyaan itu bisa  menggiring kepada jawaban terakhir yang  menurut saya, ialah akar masalah. Apa itu?
                
Menurut saya akar masalah itu berawal dari bergesernya pandangan hidup kita, terutama konsep kita tentang kehidupan dunia ini. Dulu orang Jawa, misalnya, mempunyai falsafat “Hidup di dunia ini hanyalah ibarat mampir ngombe, mampir minum.”  Ini hampir senada dengan anjuran Nabi Muhammad SAW, “Kun fiddunya kaannaka ghariibun au ‘aabiru sabiil” ,  Jadilah kamu di dunia ini seolah-olah orang  asing atau penyeberang jalan.” Karena pandangan hidup inilah, kesederhanaan hidup menjadi sebuah anutan masyarakat .  Sisa-sisa budaya kesederhanaan ini masih  bisa dijumpai –meski sudah mulai langka—di desa-desa.
                
Ironinya, falsafat Jawa “mampir ngombe” yang agamis itu, mulai tampak  terabaikan lalu seperti dilupakan sejak kekuasaan ‘raja Jawa’ Suharto.  Entah disadari atau tidak, dalam masa kekuasaannya yang sekian lama; Suharto laiknya pendidik yang genial telah berhasil mendidik  bangsa ini untuk mencintai kehidupan duniawi  sedemikian rupa, sehingga nyaris tak ada lagi warga negeri ini yang memandang kehidupan duniawi ini biasa-biasa saja. Yang kalau pun menganggap penting, hanyalah sekedar  sebagai wasilah  atau sarana bagi kehidupan yang lebih esensial dan abadi di akherat.
Semua orang seolah-olah berlomba untuk menjadi orang kaya seperti pendidik dan panutannya itu. Harta dan kekuasaan pun menjadi idaman dan kepentingan setiap orang.
                
Dari idaman, harta dan kekuasaan,  naik menjadi pujaan, lalu menjadi  kepentingan; kemudian menjadi Tuhan. Ketika kepentingan duniawi menjadi Tuhan, maka Tuhan Yang Maha Esa pun menjadi Kesetanan yang Maha Perkasa. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi Kebinatangan yang Degil dan biadab. Persatuan Indonesia menjadi Persetruan Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  permusyawarata/perwakilan menjadi Kekuasaan yang dipimpin oleh nikmat kepentingan dalam perkerabatan/perkawanan dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia pun menjadi  Kelaliman sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
                
Telusurilah  semua perangai aneh  yang membuat kerusakan di negeri ini, seperti misalnya, penegak hukum yang justru  melecehkan hukum dan  preman yang mengatur  keamanan atau mengatur  pengadilan.  Hal-hal yang  mengakibatkan  hukum tidak dihargai, banyak orang main hakim sendiri,  dan kerugian negara yang tak terkira. Seperti juga pemimpin yang bertikai dengan sesama pemimpin;  wakil rakyat yang tak pernah memikirkan rakyat dan hanya memikirkan diri sendiri;  yang berakibat krisis kepercayaan. Maling  yang memegang  jabatan-jabatan  penting sehingga mengakibatkan kerusakan dimana-mana.  Belum lagi  perangai-perangai  ganjil masyarakat kita seperti  orang tua yang  menjual anaknya sendiri;  menantu yang mencekik mertuanya; anak-anak  yang bunuh diri;  dan sebagainya ,  dan seterusnya.  Bila anda telusuri  perangai-perangai  aneh  yang berakibat  buruk itu,  akan anda temukan bahwa yang mengatur semua itu adalah ‘tuhan’ yang namanya kepentingan duniawi tersebut.
                
Maka menurut saya,  kita perlu –seperti pernah saya tulis belasan tahun yang lalu-- melakukan revolusi mental. Mengembalikan konsep kita tentang kehidupan dunia ini seperti semula. Memandang dunia dan materi ini biasa-biasa saja. Kalau pun menganggap penting, ya secara proporsional. Tidak berlebih-lebihan.  Kalau perlu kita –meniru para Akademisi dan tokoh agama di Jawa Timur itu--  juga membuat gerakan. Misalnya membuat Gerakan Hidup sederhana. Dengan meluncurkan kaos-kaos dan pin-pin bertuliskan, misalnya: “Gerakan Hidup Sederhana. Stop Berlebih-lebihan Menyintai Dunia dan Materi!”.
                
Bagaimana?