Jumat, 27 Januari 2017 09:09 WIB

Mempersulit Agama


MEMPERSULIT AGAMA

oleh KH A Mustofa Bisri

Boleh jadi terpengaruh oleh ajaran agama lain, banyak di antara umat islam --termasuk yang dianggap pemimpin--   mempunyai anggapan dalam soal agama, bahwa semakin sulit dan berat, semakin baik dan banyak pahalanya. Dalam hal bacaan; semakin panjang, semakin baik dan banyak pahalanya.

Karena pandangan itu --entah disadari atau tidak—ada atau banyak orang yang berpuasa tiidak segera berbuka atau tidak makan sahur. Bahkan ada yang namanya puasa pati geni, tidak berbuka tidak sahur. Padahal puasa dalam islam yang terbaik adalah yang cepat-cepat berbuka (ta’jilul futhur) dan mengakhirkan sahur (taa’khiirus sahuur).

Boleh jadi karena ini pula banyakkhatib yang khotbahnya panjang-panjang hingga membuat jama’ah tertidur. Padahal khotbah yang afdol menurut ajaran dan yang dicontohkan Pemimpin Agung RasuluLlah SAW ialah khotbah yang singkat dan tidak bertele-tele.

Saya kira tidak terle[as dari pandangan ini pula, adanya banyak orang yang ‘mati-matian’ berusaha mencium Hajar Aswad ketika berhaji, bahkan sampai menyodok dan menyikut kiri-kanan. Padahal mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya sunnah; sementaramenyodok dan menyikuti saudara-saudara sesama hamba Allah hukumnya haram.

Ada juga orang-orang islam yang tidak hanya mempersulit diri sendiri dalam beragama, tapi juga mempersulit orang lain. Misalnya, ketika bulan Ramadan, tidak hanya melaksanakan kewajiban berpuasa. Tapi juga melakukan kegiatan-kegiatan mendorong orang lain untuk menghormati bulan Ramadan; bahkan ada yang maunya menutup warung-warung makan. Padahal tidak semua orang islam berpuasa di bulan suci itu (misalnya perempuan yang dating bulan dan musafir)

Kadang-kadang karena keinginan ngepas-ngepaskan ibadah, orang sampai melupakan mana yang hak Allah dan mana yang hak Adami. Tidak bisa membedakan mana yang semangat agama dan mana yang nafsu. Kita misalnya, sering menyaksikan sesama muslim bertengkar soal Ied, hari raya. Kebetulan di negeri kita ini paling sering terjadi hari raya ‘double’. Kelompok ini hari ini, kelompok itu hari itu. Dalam menyikapi hal ini, kita tidak malah bersyukur punya dua hari raya; tapi berselisih dengan sesama musim. Padahal I’ed atau hari raya ini merupakan hak Allah.

Pendek kata, Anda bisa melihat banyak praktik keberagamaan umat islam yang terkesan memperberat agama. Padahal Allah SWT sendiri berkali-kali menegaskan di dalam kita suciNya bahwa Iaa sama sekali tidak menjadikan suatu kesempitan dalam agama; tidak membebani hamba-hambaNua di luar kemampuan mereka; dan Ia benar-benar tidak ingin mempersulit mereka (baca misalnya, Q 2: 185, 233, 286; Q. 6: 152; Q. 7:42; Q. 22:78; Q. 23:62). Sementara Rasulullah SAW sendiri dalam hadis shahieh riwayat Imam Bukhari yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah r.a jelas-jelas menyatakan bahwa agama itu sebenarnya mudah.