Kamis, 09 Februari 2017 09:01 WIB

Seandainya Orang Tolol Mau Diam




Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yaqul khairan au liyasmut!” (Barang siapa sudah beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah berkata yang baik atau sebaiknya diam).

Memang bicara dan diam ada tempatnya masing-masing. Diam pada saat harus bicara, mungkin sama buruknya dengan bicara pada saat harus diam. Sebaiknya kita memang harus tahu kapan kita mesti diam dan kapan mesti bicara. Kalau tidak, salah-salah bisa celaka. Antara lain karena kita diam pada saat mestinya harus bicara, maka kemungkaranpun terus berlangsung di negeri kita bertahun-tahun dan mengakibatkan kerusakan negeri yang begitu parah. Namun sebaliknya, seringkali diam justru jauh lebih bermanfaat ketimbang bicara. Bahkan tidak jarang bicara justru menimbulkan bencana, tidak hanya bagi orang yang bersangkutan, tetapi juga kepada orang-orang lain. Perkelahian bahkan peperangan bisa terjadi akibat omongan yang salah. 

Dulu di majelis penguasa yang agung, ketika semua orang yang hadir angkat bicara dan umumnya memuji-muji sang penguasa, seorang arif yang ikut hadir dalam majelis itu hanya diam saja. Sehingga akhirnya sang penguasa pun bertanya, “Mengapa dari tadi kau diam saja, tidak ikut bicara seperti yang lainnya?”

Orang arif itu pun menjawab, “Aku dari tadi diam, karena sedang mempertimbangkan dua hal yang sama-sama berat. Apakah aku akan bicara bohong seperti mereka untuk menyenangkan Anda, atau bicara jujur dan membahayakan diri saya sendiri.”

Orang bijak menasihati kita, kalau kita akan bicara sebaiknya dipikirkan dulu, agar bicara kita tidak meingbulkan hal-hal yang negatif. Tapi orang tolol biasanya malas berfikir, karena itu lebih dianjurkan untuk diam saja.