Kala Gus Mus Bicara Tentang Adil


Jakarta, Gusmus.net

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin KH Mustofa “Gus Mus” Bisri mengatakan, agar manusia bisa mengamalkan apa yang disampaikan Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak, maka manusia harus bersikap adil. Menurutnya, Al Quran banyak sekali menyebut tentang sikap adil. 

“Di Surat Al-Maidah ayat delapan ada itu. Di surat Annisa ayat seratus tiga puluh lima. Awalnya hampir sama (antara Al Maidah delapan dan Annisa seratus tiga puluh lima), Ya ayyuhalladzina kunu qowwamina bukan lillah, bis qisthi syuhada’a lillah,” kata Gus Mus dikutip dari GusMus Channel di Youtube dengen tema Tetang Adil yang diunggah pada Selasa (9/5). 

Surat Annisa tersebut, jelas Gus Mus, memberikan penjelasan bahwa kalau tidak adil berarti tidak karena Allah. Kalau seseorang melakukan sesuatu karena Allah maka ia akan berlaku adil. 

Gus Mus menjelaskan, manusia sulit berlaku adil karena mereka memiliki emosi yang condong ke arah benci maupun ke arah cinta terhadap suatu hal ataupun seseorang. Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengajarkan untuk bersikap moderat ataupun tengah-tengah. Karena adil tidak bisa dilakukan oleh orang yang terlalu cinta maupun orang yang terlalu benci.

“Anda kalau terlalu benci, anda ndak bisa adil. Anda terlalu cinta, tidak bisa adil. Karena adil itu di tengah,” jelasnya.

Sebagaimana yang tertera dalam Surat Al Maidah ayat delapan tersebut, Gus Mus menyatakan, jika seseorang ingin melaksanakan kebenaran maka sikap adil harus menjadi landasannya. Menurutnya, seseorang harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenaran. 

“Kalau kita terlalu semangat, lalu kita lupa bahwa kita harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenara,” urainya.

Bahkan, Gus Mus mengatakan, jangan sampai kebencian seseorang terhadap suatu hal ataupun orang lain menyebabkannya untuk tidak berbuat adil. “Jangan sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeretmu, mendorongmu untuk tidak adil,” terangnya. 

Kata Kaum di dalam Surat Al Maidah itu, imbuh Gus Mus, merujuk kepada orang-orang kafir. Maka dari itu, ia berpendapat, berbuat tidal adil kepada orang kafir saja di larang, apalagi kepada sesama umat Islam. 

“Kalau kepada orang kafir saja kita tidak boleh tidak adil, apalagi kepada sesama kaum yang beriman,” tutupnya. (amr)    

Kabar Duka, Kiai Hasyim Muzadi Wafat


(Alm. Kiai Hasyim Muzadi -kiri, bersama Habib Lutfi Bin Yahya dan KH A Mustofa Bisri saat pertemuan di Gedung PBNU Jakarta)

Gusmus.net - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul KH Hasyim Muzadi wafat pada Kamis, (16/3) pagi. Berita wafatnya Kiai Hasyim tersebut ramai di media sosial.

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kullu nafsin dzaiqotul maut. Lahu ma akhodz wa lahu ma a'tho. Telah meninggal dunia KH Ahmad Hasyim Muzadi, ghafarallahu lahu, pada pagi ini, hari kamis, 16 maret 2017 pada pukul 6.15 wib. Jenazah insyaallah akan diberangkatkan ke pesantren alhikam depok dari malang bakda dzuhur hari ini, dan akan dishalatkan di masjid alhikam setibanya di pesantren," tulis Ust Yusron Shidqi, Putra Kiai Hasyim.

Menanggapi hal itu, KH A Mustofa Bisri menyampaikan belasungkawanya.

"InnaliLahi wa innailaiHi rajiun. Kita kehilangan lagi seorang tokoh, mantan Ketum PBNU, KH Hasyim Muzadi. Semoga husnul Khatimah," tulis Gus Mus di akun twitternya @gusmusgusmu.

Gus Mus: Berani Sekali Allah "Disuruh" Ngurusi Pilkada



KH A Mustofa Bisri merasa perihatin saat ini banyak orang yang meneriakkan Allahu Akbar tidak hanya di dalam shalat, tetapi juga dibawa di jalan-jalan, bahkan sampai dibawa-bawa dalam urusan Pilkada. Lantas kiai yang akrab disapa Gus Mus itu mempertanyakan sebenarnya mereka mengetahui atau tidak maksud dari Allahu Akbar.

“Masak urusan Pilkada Gusti Allah diajak? Saya tanya, apa arti sampean mengucapkan Allahu Akbar? Apa, kok enggak ada yang jawab? Allah Maha Besar, sebesar apa Allah kok sampean mengatakan terbesar? Wong pengajian akbar, masjid akbar, dan imam besar juga ada, apa Tuhan sebesar itu?” tutur Gus Mus disambut tawa hadirin saat mengisi pengajian yang digelar oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Bandung, Senin (13/3) malam.

Gus Mus menceritakan bahwa dirinya pernah menggambar planet-planet, akhirnya ia menyimpulkan bumi itu sebesar biji kacang hijau. Suatu kita Gus Mus bertemu dengan ilmuan yang mengerti bidang tersebut mengatakan terlalu besar kalau digambarkan dengan kacang hijau, bahkan sebutir debu saja terlalu besar.

“Lha kalau sebesar debu, saya menerangkan kawan-kawan bagaimana. Makanya saya besarkan (gambar bumi) sekacang hijau. Sekarang pertanyaanya di manakah kita?” tutur pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang itu pada acara yang dihadiri Wali Kota Bandung dan Kapolda Jabar.

“Ketika Allahu Akbar, di kepala sampean ada siapa? Kalau mengucapkan Allahu Akbar, tapi di dalam kepada terpikir Haji Sulam Jualan Bubur. Jangan sembarangan Allahu Akbar dulu, bahwa banyak ulama pingsan karena tahu betapa kecil kita ini. Bersamaan dengan 7,5 miliar penghuni di kacang hijau yang sudah saya besar tadi,” sambung Gus Mus.

Gus Mus tertawa kalau ada orang yang sombong dalam kacang hijau. Ada yang merasa seperti Gusti Allah. Kalau dia marah dipikir Allah juga marah, kalau dia geram, dia pikir Allah juga geram. “Bandung saja tidak kelihatan, apalagi TPS-TPS. Allahu sebesar itu, tapi disuruh "ngurusi" Pilkada, berani sekali orang-orang Indonesia ini. Jangan mengatakan Allahu Akbar, tapi merasa dirinya lebih besar dengan yang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Mus mengutip pendapat kakaknya yakni Kiai Cholil Bisri, “Kalau tidak bisa mengetahui bagaimana besarnya Allah, sudahlah maknai Allahu Akbar, aku sangat kecil sekali.”

Gus Mus mengakui bahwa memang sukar apabila mengecilkan diri sendiri, apalagi bagi yang mempunyai jabatan. “Jadi kita itu bagaimana, mengecilkan diri sendiri tidak bisa, membesar Tuhan tidak mampu,” jelasnya disambut hening oleh hadirin yang juga memenuhi alun-alun kota Bandung. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)


Sumber: NU Online