Gus Mus menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2018

KH. A. Mustofa Bisri yang biasa dipanggil Gus Mus mendapat penghargaan Yap Thiam Hien 2017. Upacara penganugerahan diberikan oleh Yayasan Yap Thiam Hien yang diketuai oleh Todung Mulya Lubis di Auditoriun Perpustakaan Nasional Jakarta, Rabu 24 Januari 2018. Dewan Juri yang memberikan penilaian terdiri dari Zumrotin, Todung Mulya Lubis, Musdah Mulia, Makarim Wibisono dan Yoseph Stanley Adi Prasetyo.

Hadir dalam malam penganugerahan tersebut, selain kelima Dewan Juri, tampak Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Wakil Ketua KPK La Ode Ida, Ketua Komisi Yudisial, para Komisioner Komnas HAM dan banyak yang lain.

Ibu Zumrotin, selaku Ketua Dewan Juri menyampaikan dalam sambutannya bahwa terpilihnYa Gus Mus sebagai penerima award karena konsistensinya dalam perjuangan dan kiprahnya membela kemanusiaan. "Gus Mus adalah Kiai beneran dan bukan Kiai abal-abal" ujar Zumrotin. Sedangkan Todung Mulya Lubis menyampaikan bahwa Gus Mus adalah sosok yang membela dan berjuang atas Hak Asasi Manusia melalui caranya sendiri. "Khotbah dan dakwahnya saja sudah sangat menyejukkan dan menenangkan" kata Todung. Dalam sambutannya Todung Mulya Lubis sempat membacakan beberapa bait puisi "Kau ini bagaimana atau Aku Harus Bagaimana".

Selamat kepada Kiai Ahmad Mustofa Bisri atas penghargaan Yap Thiam Hien 2017.

Budayawan Darmanto Jatman Tutup Usia

Inna liLlahi wainna ilaiHi rojiun. Dunia sastra kembali kehilangan orang terbaikya. Budayawan Nasional, Darmanto Jatman tutup usia pada sabtu 14 Januari 2018 pada usia 75 tahun di RS Kariadi Semarang. Almarhum terkena penyakit kandung kemih dalam satu tahun terakhir. 

Darmanto Jatman  merupakan guru besar emiritus Universitas Diponegoro Semarang. Ia dikenal sebagai pendiri program studi psikologi di Fakultas Psikologi UNDIP. Banyak karya dan penghargaan yang diraihnya. Ia sangat akrab dengan dunia penyair dan para budayawan di Indonesia. Cak Nun, budayawan sahabat Darmanto Jatman menulis secara khusus catatan tentang almarhum yang diberi judul paviliun sorga. "Andaikan saya bisa melukis, yang bisa saya torehkan di kanvas adalah senyuman itu sendiri" tulis cak nun yang situs pribadinya caknun.com. Begitulah sosok lembut dan sederhana Darmanto Jatman.

Semoga sang Maestro Darmanto Jatman, Sastrawan dan Budayawan yang telah mendahului kita mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya. Segala amal baiknya diterima oleh Allah dan diampuni segala kesalahannya. Amin

Kala Gus Mus Bicara Tentang Adil


Jakarta, Gusmus.net

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin KH Mustofa “Gus Mus” Bisri mengatakan, agar manusia bisa mengamalkan apa yang disampaikan Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak, maka manusia harus bersikap adil. Menurutnya, Al Quran banyak sekali menyebut tentang sikap adil. 

“Di Surat Al-Maidah ayat delapan ada itu. Di surat Annisa ayat seratus tiga puluh lima. Awalnya hampir sama (antara Al Maidah delapan dan Annisa seratus tiga puluh lima), Ya ayyuhalladzina kunu qowwamina bukan lillah, bis qisthi syuhada’a lillah,” kata Gus Mus dikutip dari GusMus Channel di Youtube dengen tema Tetang Adil yang diunggah pada Selasa (9/5). 

Surat Annisa tersebut, jelas Gus Mus, memberikan penjelasan bahwa kalau tidak adil berarti tidak karena Allah. Kalau seseorang melakukan sesuatu karena Allah maka ia akan berlaku adil. 

Gus Mus menjelaskan, manusia sulit berlaku adil karena mereka memiliki emosi yang condong ke arah benci maupun ke arah cinta terhadap suatu hal ataupun seseorang. Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengajarkan untuk bersikap moderat ataupun tengah-tengah. Karena adil tidak bisa dilakukan oleh orang yang terlalu cinta maupun orang yang terlalu benci.

“Anda kalau terlalu benci, anda ndak bisa adil. Anda terlalu cinta, tidak bisa adil. Karena adil itu di tengah,” jelasnya.

Sebagaimana yang tertera dalam Surat Al Maidah ayat delapan tersebut, Gus Mus menyatakan, jika seseorang ingin melaksanakan kebenaran maka sikap adil harus menjadi landasannya. Menurutnya, seseorang harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenaran. 

“Kalau kita terlalu semangat, lalu kita lupa bahwa kita harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenara,” urainya.

Bahkan, Gus Mus mengatakan, jangan sampai kebencian seseorang terhadap suatu hal ataupun orang lain menyebabkannya untuk tidak berbuat adil. “Jangan sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeretmu, mendorongmu untuk tidak adil,” terangnya. 

Kata Kaum di dalam Surat Al Maidah itu, imbuh Gus Mus, merujuk kepada orang-orang kafir. Maka dari itu, ia berpendapat, berbuat tidal adil kepada orang kafir saja di larang, apalagi kepada sesama umat Islam. 

“Kalau kepada orang kafir saja kita tidak boleh tidak adil, apalagi kepada sesama kaum yang beriman,” tutupnya. (amr)