Innalillah, Kiai Nafi’ Wafat


Gusmus.net- KH A Mustofa Bisri mengucapkan duka cita atas wafatnya KH Nafi’ Abdillah. Menurutnya, Kiai Nafi adalah kiai yang sebenarnya.

Inna liLlahi wainna ilaiHi rajiun. Kembali kita kehilangan orang baik, kiai yang sebenarnya kiai. Kiai Nafi’ Abdullah, khalifahnya Allahu yarham Mbah Abdullah Salam dalam berakhlak dan mengasuh pondok dan penggantinya Kiai Sahal Mahfudz dalam ketertiban berfikir dan memimpin Perguruan Mathali’ Kajen,” tulis Gus Mus.

Lebih lanjut, Gus Mus mendoakan almarhum. “Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu waj’aliljannata matswah. Alfatihah,” lanjut Gus Mus.

Direktur Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen Pati  KH Nafi Abdillah atau biasa dipanggil Abah Nafi diberitakan wafat di Turki pada Ahad (19/2) pagi ini.

Menurut Ka Bas, Mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Turki yang ikut membantu rombongan Abah Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna tersebut dirawat di RSUD Bakırköy İstanbul sebelum wafat.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un telah berpulang ke Rahmatullah KH Ahmad Nafi' Abdillah Kajen Pati, pukul 00:30 waktu İstanbul (di RSUD Bakırköy İstanbul). Mohon doanya, Al-Fatihah,” tulis Ka Bas di Facebooknya.

Di grup-grup Whatsapp juga ramai tentang wafatnya Abah Nafi’ tersebut. Ada yang mempertanyakan kevalidan berita tersebut. Namun kemudian, KH Ahmad Nadzif Abdul Mujib, menantu Abah Nafi’, memastikan bahwa berita tersebut benar.

“Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun. Kak Rozak sampun MEMASTIKAN DI DEPAN JENAZAH ABAH (Nafi’),” tulis Gus Nadzif di salah satu grup Whatsapp setelah menanyakan langsung kepada KH Abdul Rozak, menantu Abah Nafi’ dari putri pertama, yang ikut rombongan di Turki.

Direktur Mathali’ul Falah tersebut wafat di Turki setelah menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci Mekkah.

KH Nafi Abdillah dikenal sebagai kiai yang ahli dalam ilmu ushu fikih dan juga sebagai seorang mursyid tarekat. Lahu Al Fatihah (AMR)

Bukan Terjemahan Lafadz Ulama, Ini Makna Kiai Menurut Gus Mus


Jakarta, gusmus.net- Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, mengatakan, kiai itu bukan lah terjemahan dari lafadz ulama. Menurutnya, kata kiai adalah produk budaya Jawa.

“(Lafadz) Kiai meniko mboten (bukan) terjemahan lafadz ulama, kiai meniko (itu) istilah budaya, budaya mawon (nya pun) budaya Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur),”  jelas Gus Mus dikutip dari ceramah di Pondok Pesantren Al Asnawi Magelang, sebagaimana video yang diupload di Youtube, Kamis 2 Februari 2017.

Maka dari itu, lanjut Gus Mus, kalau seandainya ada panggilan kiai di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka bisa dipastikan bahwa mereka meniru masyarakat Jawa. “Jawa Barat mawon mboten wonten (aja tidak ada), (kiai) Jawa Barat niku (itu namanya) ajengan,” tegasnya.

Salah satu ciri kiai, imbuh Gus Mus, adalah orang yang memiliki ilmu, mewakafkan dirinya untuk umat Islam, mengajar dan mendidik anak-anak tanpa dibayar.

Ono seng bodho dikei ngelmu, nganakno pengajian, anake wong diulang dididik. (ada orang yang bodoh kemudian ia kasih ilmu, mengadakan pengajian, anaknya orang diajar dan didik),” kata Gus Mus.

“Kiai-kiai iku mboten, kiai mbiyen. Embuh nek kiai sak iki. (Kiai-kiai itu tidak dibayar, itu kiai dulu. Entah kalau kiai yang sekarang),” sindir Alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut.

Menurut Gus Mus, ulama bukanlah padanan kata daripada kiai. Ulama adalah orang yang memiliki ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu lainnya. Sementara kiai adalah orang yang memiliki ilmu, khususnya agama, mau mengurusi umat tanpa imbalan darinya, dan memperlakukan umat dengan kasih sayang. 

"Karena tidak menemukan, ya dicarikan padanan kata paling dekat, yakni ulama atau wong alim (orang pintar). Ulama merupakan bentuk jamak (gabungan kata) alim. Pintar dalam apa aja, bukan hanya soal agama," ujarnya. (AMR)

Nasihat Gus Mus Agar Hidup Terasa Indah



Jakarta, gusmus.net. KH A Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengatakan, hidup akan indah jika seseorang mau mensyukuri apa yang mereka miliki. 

‘’Kita punya banyak hal yang indah yang apabila kita syukuri dengan semestinya, hidup kita akan indah...’’, demikian cuitan Gus Mus di akun Twitternya, @gusmusgusmu, Jumat (10/2).

Gus Mus juga menjelaskan, Allah SWT adalah yang paling terindah diantara hal lainnya yang dimiliki seseorang seperti keluarga, saudara, kawan, dan lainnya.

‘’Kita punya agama, keluarga, saudara, kawan, doa, dan yang terindah: Allah SWT,’’ lanjutnya.

Di dalam Al Quran Surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT juga menegaskan, jika manusia bersyukur atas apa yang mereka miliki, maka Allah akan menambah nikmat tersebut. 

Begitupun sebaliknya, jika manusia tidak mau bersyukur atas nikmat yang mereka miliki, maka Allah mengancam mereka dengan siksa yang pedih. (AMR)