Ini Tiga Bentuk Berpolitik Menurut Gus Mus



KH A Mustofa Bisri menilai, kemelut masalah keagamaan yang bersumber dari imbas suhu politik pada musim pilkada baru-baru ini merupakan bentuk penggunaan agama yang dipakai berpolitik oleh orang-orang yang tidak ahli berpolitik.
“Ini yang mengacaukan kita kan orang yang kepengennya berpolitik tapi tidak mengerti politik. Lalu menggunakan agama tapi tidak tahu agama. Jadi repot semua, nggak begitu mengerti berpolitik, menggunakan agama tapi nggak mengerti agama. Kacaunya dobel-dobel atau murakkab,” ungkapnya saat mengisi pengajian yang Masjid Raya Alun-Alaun Bandung, Jawa Barat, Senin (13/3) malam.

Untuk meluruskan pemahaman, kiai yang masyhur disapa Gus Mus itu menuturkan tentang tiga bentuk politik. Pertama, ada politik kebangsaan. Politik ala NU selalu berpikir tentang bangsa Indonesia. Bermula dari pikiran sederhana bahwa Indonesia adalah rumah kita. Oleh karena itu, politik kebangsaan adalah suatu hal penting untuk menjaga NKRI yang mutlak sebagai orang NU.

“Yang dipikirkan NU itu Indonesia. Dulu ketika Gus Dur diturunkan kenapa tidak menggerakkan rakyat (Nahdliyin) yang berjumlah lebih dari 60 juta orang. Itu berapa kali lipat penduduk Arab Saudi. Kalau Gus Dur mengerahkan rakyat itu, kayak apa Indonesia? Politik kebangsaan mengalahkan politik kekuasaan,” ujarnya.

Kedua, politik kerakyatan. Politik ini, kata Gus Mus, yang sudah jarang-jarang dijalankan oleh orang-orang NU. Ia memamparkan bahwa politik kerakyatan itu politik yang membela rakyat. “Kalau menjadi anggota dewan ya betul-betul menjadi wakil rakyat betul, jangan mewakili diri sendiri. Wakil rakyat kok mewakili diri sendiri,” sindirnya disambut tawa hadiri yang memenuhi serambi masjid dan alun-alun.

Gus Mus melanjutkan bentuk ketiga adalah yang paling diminati oleh orang, yaitu politik kekuasaan atau politik praktis. Ini yang bagi Gus Mus merupakan hal yang sangat sepele, paling hanya 5 tahun.

“Urusan lima tahunan lha kok bawa-bawa Al-Qur’an yang ila yaumil qiyamah (sampai hari kiamat). Memang kepentingan duniawi itu kadang-kadang meskipun cuma lima tahunan tetapi bisa menghilangkan pikiran kita,” terang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

Ia mengingatkan bahwa mencintai dunia secara berlebihan-lebihan adalah sumber dari segala kesalahan, sumber malapetaka. “Tidak usah berlebih-lebihan suka pangkat, suka harta, yang sedang-sedang saja. Kalau bahasa NU, tawassuth dan i’tidal. Berlebihan apa saja itu yang menyebabkan rusak,” pesan Gus Mus. (M. Zidni Nafi’/Mahbib)

Sumber: NU Online

Innalillah, Kiai Nafi’ Wafat


Gusmus.net- KH A Mustofa Bisri mengucapkan duka cita atas wafatnya KH Nafi’ Abdillah. Menurutnya, Kiai Nafi adalah kiai yang sebenarnya.

Inna liLlahi wainna ilaiHi rajiun. Kembali kita kehilangan orang baik, kiai yang sebenarnya kiai. Kiai Nafi’ Abdullah, khalifahnya Allahu yarham Mbah Abdullah Salam dalam berakhlak dan mengasuh pondok dan penggantinya Kiai Sahal Mahfudz dalam ketertiban berfikir dan memimpin Perguruan Mathali’ Kajen,” tulis Gus Mus.

Lebih lanjut, Gus Mus mendoakan almarhum. “Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu waj’aliljannata matswah. Alfatihah,” lanjut Gus Mus.

Direktur Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen Pati  KH Nafi Abdillah atau biasa dipanggil Abah Nafi diberitakan wafat di Turki pada Ahad (19/2) pagi ini.

Menurut Ka Bas, Mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Turki yang ikut membantu rombongan Abah Nafi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna tersebut dirawat di RSUD Bakırköy İstanbul sebelum wafat.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un telah berpulang ke Rahmatullah KH Ahmad Nafi' Abdillah Kajen Pati, pukul 00:30 waktu İstanbul (di RSUD Bakırköy İstanbul). Mohon doanya, Al-Fatihah,” tulis Ka Bas di Facebooknya.

Di grup-grup Whatsapp juga ramai tentang wafatnya Abah Nafi’ tersebut. Ada yang mempertanyakan kevalidan berita tersebut. Namun kemudian, KH Ahmad Nadzif Abdul Mujib, menantu Abah Nafi’, memastikan bahwa berita tersebut benar.

“Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun. Kak Rozak sampun MEMASTIKAN DI DEPAN JENAZAH ABAH (Nafi’),” tulis Gus Nadzif di salah satu grup Whatsapp setelah menanyakan langsung kepada KH Abdul Rozak, menantu Abah Nafi’ dari putri pertama, yang ikut rombongan di Turki.

Direktur Mathali’ul Falah tersebut wafat di Turki setelah menjalankan ibadah umrah di Tanah Suci Mekkah.

KH Nafi Abdillah dikenal sebagai kiai yang ahli dalam ilmu ushu fikih dan juga sebagai seorang mursyid tarekat. Lahu Al Fatihah (AMR)

Bukan Terjemahan Lafadz Ulama, Ini Makna Kiai Menurut Gus Mus


Jakarta, gusmus.net- Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, mengatakan, kiai itu bukan lah terjemahan dari lafadz ulama. Menurutnya, kata kiai adalah produk budaya Jawa.

“(Lafadz) Kiai meniko mboten (bukan) terjemahan lafadz ulama, kiai meniko (itu) istilah budaya, budaya mawon (nya pun) budaya Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur),”  jelas Gus Mus dikutip dari ceramah di Pondok Pesantren Al Asnawi Magelang, sebagaimana video yang diupload di Youtube, Kamis 2 Februari 2017.

Maka dari itu, lanjut Gus Mus, kalau seandainya ada panggilan kiai di luar Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka bisa dipastikan bahwa mereka meniru masyarakat Jawa. “Jawa Barat mawon mboten wonten (aja tidak ada), (kiai) Jawa Barat niku (itu namanya) ajengan,” tegasnya.

Salah satu ciri kiai, imbuh Gus Mus, adalah orang yang memiliki ilmu, mewakafkan dirinya untuk umat Islam, mengajar dan mendidik anak-anak tanpa dibayar.

Ono seng bodho dikei ngelmu, nganakno pengajian, anake wong diulang dididik. (ada orang yang bodoh kemudian ia kasih ilmu, mengadakan pengajian, anaknya orang diajar dan didik),” kata Gus Mus.

“Kiai-kiai iku mboten, kiai mbiyen. Embuh nek kiai sak iki. (Kiai-kiai itu tidak dibayar, itu kiai dulu. Entah kalau kiai yang sekarang),” sindir Alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut.

Menurut Gus Mus, ulama bukanlah padanan kata daripada kiai. Ulama adalah orang yang memiliki ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu lainnya. Sementara kiai adalah orang yang memiliki ilmu, khususnya agama, mau mengurusi umat tanpa imbalan darinya, dan memperlakukan umat dengan kasih sayang. 

"Karena tidak menemukan, ya dicarikan padanan kata paling dekat, yakni ulama atau wong alim (orang pintar). Ulama merupakan bentuk jamak (gabungan kata) alim. Pintar dalam apa aja, bukan hanya soal agama," ujarnya. (AMR)