Rabu, 27 Januari 2016 10:50 WIB

Duel Puisi Gus Mus dan Piano Gus Jaya


Gus Mus, panggilan akrab KH Ahmad Mustofa Bisri berduet dengan Jaya Suprana dalam perayaan 26 tahun Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Kamis 28 Januari 2016 di Jakara. Gus Mus tampil membawakan puisi-puisi karyanya dan diiringi piano oleh Jaya Suprana. Menurut Jaya Suprana, Gus Mus merupakan sosok teladan yang sekarang hampir susah ditemukan. Disaat semua orang cenderung sibuk dengan memperebutkan kekuasaan, namun Kiai asal Rembang ini justru tidak menerimanya.

“"Sekarang kita semua cenderung sibuk memperebutkan kekuasaan dan jabatan, tetapi kiai satu ini justru merusak pasaran. Ia mempermalukan orang lain dengan menolak jabatan. Makanya, saya undang baca puisi," ujarnya sambil bergurau.

Dalam acara tersebut menyampaikan bahwa puisi yang dibacakan ada tiga kategori yakni puisi sebagai warga dunia, warga indonesia dan sebagai ummat islam. Diantara puisi yang dibaca terkait dirinya sebagai ummat islam adalah puisi berjudul “islamkah aku”

Islam agamaku nomor satu di dunia

Islam benderaku berkibar di mana-mana

Islam tempat ibadahku mewah bagai istana

Islam tempat sekolahku tak kalah dengan yang lainnya

 

Islam sorbanku

Islam sajadahku

Islam kitabku

 

Islam podiumku kelas exclussive yang mengubah cara dunia memandangku

Tempat aku menusuk kanan kiri

 

Islam media massaku

Gaya komunikasi islami masa kini

Tempat aku menikam sana sini

 

Islam organisasiku

Islam perusahaanku

Islam yayasanku

 

Islam istansiku , menara dengan seribu pengeras suara

Islam muktamarku, forum hiruk pikuk tiada tara

 

Islam bursaku

Islam warungku hanya menjual makanan sorgawi

Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi

 

Islam makananku

 

Islam teaterku menampilkan karakter-karakter suci

Islam festifalku memeriahkan hari-hari mati

 

Islam kaosku

Islam pentasku

 

Islam seminarku, membahas semua

Islam upacaraku, menyambut segala

Islam puisiku, menyanyikan apa saja

 

Tuhan Islamkah aku?

 

Gus Mus menyampaikan bahwa islam adalah agama yang membawa rahmah. Kekurang pemahaman atas agama akan mendorong pada paham radikalisme dan ektremisme.

“Seringkali semangat beragama tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang baik. Semangat dengan pemahaman beragama itu harus seimbang” ujar Gus Mus.

(/ale)