Rabu, 10 Mei 2017 19:38 WIB

Kala Gus Mus Bicara Tentang Adil



Jakarta, Gusmus.net

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin KH Mustofa “Gus Mus” Bisri mengatakan, agar manusia bisa mengamalkan apa yang disampaikan Nabi Muhammad, yaitu menyempurnakan akhlak, maka manusia harus bersikap adil. Menurutnya, Al Quran banyak sekali menyebut tentang sikap adil. 

“Di Surat Al-Maidah ayat delapan ada itu. Di surat Annisa ayat seratus tiga puluh lima. Awalnya hampir sama (antara Al Maidah delapan dan Annisa seratus tiga puluh lima), Ya ayyuhalladzina kunu qowwamina bukan lillah, bis qisthi syuhada’a lillah,” kata Gus Mus dikutip dari GusMus Channel di Youtube dengen tema Tetang Adil yang diunggah pada Selasa (9/5). 

Surat Annisa tersebut, jelas Gus Mus, memberikan penjelasan bahwa kalau tidak adil berarti tidak karena Allah. Kalau seseorang melakukan sesuatu karena Allah maka ia akan berlaku adil. 

Gus Mus menjelaskan, manusia sulit berlaku adil karena mereka memiliki emosi yang condong ke arah benci maupun ke arah cinta terhadap suatu hal ataupun seseorang. Oleh karena itu, Nabi Muhammad mengajarkan untuk bersikap moderat ataupun tengah-tengah. Karena adil tidak bisa dilakukan oleh orang yang terlalu cinta maupun orang yang terlalu benci.

“Anda kalau terlalu benci, anda ndak bisa adil. Anda terlalu cinta, tidak bisa adil. Karena adil itu di tengah,” jelasnya.

Sebagaimana yang tertera dalam Surat Al Maidah ayat delapan tersebut, Gus Mus menyatakan, jika seseorang ingin melaksanakan kebenaran maka sikap adil harus menjadi landasannya. Menurutnya, seseorang harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenaran. 

“Kalau kita terlalu semangat, lalu kita lupa bahwa kita harus adil meskipun di dalam menegakkan kebenara,” urainya.

Bahkan, Gus Mus mengatakan, jangan sampai kebencian seseorang terhadap suatu hal ataupun orang lain menyebabkannya untuk tidak berbuat adil. “Jangan sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeretmu, mendorongmu untuk tidak adil,” terangnya. 

Kata Kaum di dalam Surat Al Maidah itu, imbuh Gus Mus, merujuk kepada orang-orang kafir. Maka dari itu, ia berpendapat, berbuat tidal adil kepada orang kafir saja di larang, apalagi kepada sesama umat Islam. 

“Kalau kepada orang kafir saja kita tidak boleh tidak adil, apalagi kepada sesama kaum yang beriman,” tutupnya. (amr)