Pesantren Raudlatuth Thalibin terima bantuan listrik superhemat 28 Agustus 2010 13:20:56
Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero) Dahlan Iskan, Jumat (27/8) menyerahkan bantuan listrik super hemat energi kepada Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang dan diterima langsung oleh KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Bantuan tersebut berupa 600 unit listrik senilai sekitar Rp 500 juta. Selain Ponpes Raodlatut Thalibin Leteh Rembang, bantuan serupa juga diberikan ke Ponpes Gontor Ponorogo Jatim dan sebuah Ponpes di Jabar.
Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.
Cobalah Anda pikir agak tenang tanpa mengikutsertakan kesenangan Anda sendiri, mungkin Anda pun -- seperti orang yang tidak senang atau tidak paham sepak bola -- merasa geli melihat 22 orang dewasa –-sebelas lawan sebelas-- berlari-lari memperebutkan dengan serius sebuah benda bundar.
Diam- diam Iwan Fals mengagumi sejumlah tokoh NU. Legenda musik Indonesia tersebut ternyata paham benar karakter para tokoh NU. Salah satunya adalah yang dikenal nyentrik namun berwibawa. Tokoh tersebut tak lain adalah KH Mustofa Bisri, kiai sekaligus budayawan yang kini dipercaya sebagai Wakil Rais Aam PBNU.
Membaca Jejak Kontemplasi Gus Mus 28 Agustus 2010 13:16:13
Barangkali, “Kata Pengantar” pada sebuah buku terkesan biasa-biasa saja, bahkan acap dilewati oleh sebagian besar pembaca. Namun menjadi berbeda jika “Kata Pengantar” tersebut dikompilasikan, lebih-lebih berasal dari seorang budayawan kenamaan. Nama A Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam peta kepenulisan Indonesia sudah tidak disangsikan lagi. Ia dikenal sebagai penulis dalam aneka genre sekaligus sosok yang berwawasan kompleks di berbagai bidang keilmuan. Selain kepak sayap kecerdasannya sebagai ulama penegak Syari’at Islam, Gus Mus juga seorang yang berkompeten dalam bidang intelektual, jurnalistik, kebudayaan, serta kesusastraan. Tak ayal, julukan sebagai esais, kolumnis, cerpenis, dan penyair selalu melekat dalam dirinya.
Edisi 36 "Radikalisme Masuk Desa" 7 Mei 2010 13:26:09
Di edisi ini, kami mengangkat tema tentang masuknya gerakan radikalisme ke desa-desa. Tampaknya, saat ini fakta “radikalisme masuk desa” laiknya adagium “sarjana masuk desa” atau istilah lain yang sepadan, sudah menjadi perbincangan public. Mungkin sudah bukan rahasia umum, para aktivis gerakan Islam yang puritan maupun radikal telah merengsek memasuki desa-desa demi merekrut para pendukung. Kita juga dibelalakkan oleh fakta, ternyata para teroris yang sudah ditangkap beberapa waktu lalu juga banyak yang berasal dari desa. Gerakan mereka ini seringkali bertabrakan dengan tradisi keagamaan yang sudah diamalkan oleh masyarakat desa dimana mereka masuk. Dari mulai melontarkan bid’ah hingga mencuci otak warga desa untuk dirasuki pikiran-pikiran keagamaan yang radikal.
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.