Mahfud MD: MPR Tak Perlu Keluarkan Tap Maaf Terhadap Gus Dur 8 Februari 2010 13:39:07
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D. menyarankan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tak mengeluarkan Ketetapan (Tap) permohonan maaf terhadap mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Mungkin karena banyaknya hal-hal aneh di negeri ini, maka orang seperti tidak merasa aneh lagi dengan adanya penggunaan istilah-istilah yang sebenarnya aneh. Di negeri ini, misalnya, ada istilah sekolah dan madrasah yang pengertiannya setali tiga wang. Maka lucu sekali ketika ada orang mengatakan, “Anak saya sekolah di madrasah anu.”
Oleh: A. Mustofa Bisri
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Presiden Amerika Serikat ke 35, John F. Kennedy atau JFK (1917-1963 M) yang nasibnya banyak mirip dengan presiden pendahulunya, Abraham Lincoln, ketika meninggal terbunuh pada tanggal 22 November 1963, dunia ikut berduka. Maklum karena JFK merupakan presiden Negara adikuasa; dikenal sebagai presiden Amerika yang berani, mempunyai pandangan ke depan, dan menjanjikan perubahan dunia. Namun, meskipun saat pemakamannya banyak sekali yang hadir, masih terhitung tidak seberapa bila dibandingkan saat pemakaman presiden Republik Mesir, Gamal Abdel Nasser (1918-1970).
Aria Bima Tidak Ingin Anaknya Manja 11 Januari 2010 12:49:33
Walaupun sudah hidup cukup, Aria Bima, anggota DPR dari PDIP tidak ingin memanjakan anaknya dengan segala fasilitas yang berlebihan. Demikian diungkapkan Aria Bima ketika memberikan motivasi pada para peserta Pesantren Kilat Sukses Masuk PTN di Yogyakarta, yang diselenggarakan Yayasan MataAir Jakarta bekerjasama dengan PW IPNU-IPPNU DI Yogyakarta, desember silam.
Gus Mus: Gus Dur Layak Masuk Guiness Book of Record 8 Februari 2010 22:52:17
Gus Mus menilai bahwasannya Gus Dur layak masuk Guiness Book of Record. Kalau hanya masuk MURI (Museum Rekor Indonesia), terlalu kecil bagi almarhum Gus Dur. Pernyataan menggelitik itu dilontarkan KH Mustofa Bisri saat memberikan mauidzoh hasanah di acara peringatan 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid di Tebuireng, Jombang, Ahad (7/2) malam.
Edisi 31 "Umat Islam Tolak KB?" 27 Nopember 2009 11:45:26
Ada banyak isu yang saat tengah menghentak kenyamanan negeri kita. Persoalan pertikaian antara KPK dan kepolisian sepertinya telah menyita banyak perhatian masyarakat. Ditengah situasi yang “memanas” itu, ada isu yang rasanya kelewatan dan tak banyak menyodok perhatian masyarakat. Yaitu, fakta jumlah penduduk Indonesia pada 2019 bisa mencapai atau menyentuh angka 300 juta jiwa, jika pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) tidak berjalan dengan baik. Fakta ini telah membuat departemen terkait seperti BKKBN dan Depsos kelimpungan. Kita pun kerap melihat tayangan iklan tentang KB yang berslogan “dua anak cukup” di televisi. Ada apa gerangan? Memiliki anak memang hak asasi setiap orang.
Kepentingan pembangunan–seperti juga pada jaman revolusi, yaitu kepentingan revolusi–ternyata tidak hanya memerlukan dalil aqli, tapi juga dalil naqli. Apalagi jika masyarakat menjadi subyek–atau obyek–pembangunan justru “kaum beragama”.
Apabila pembangunan itu menitikberatkan pada pembangunan material (kepentingan duniawi), meski konon tujuannya material dan spiritual (kepentingan akhirat), maka perlu dicarikan dalil-dalil tentang pentingnya materi. Minimal pentingnya menjaga “keseimbangan” antara keduanya (material bagi kehidupan dunia dan spiritual bagi kehidupan akhirat).
Maka, dalil-dalil tentang mencari–atau setidak-tidaknya tentang peringatan untuk tidak melupakan–kesejahteraan dunia, pun perlu “digali” untuk digalakkan sosialisasinya.
Tak jarang semangat ingin berpartisipasi dalam pembangunan material-- yang menjadi titik berat pembangunan– ini mendorong para dai dan kyai justru melupakan kepentingan spiritual bagi kebahagiaan akhirat. Atau, setidaknya, kurang proporsional dalam melihat kedua kepentingan itu.
Ketika berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, biasanya para dai tidak cukup menyitir doa sapu jagat saja: Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. Biasanya, mereka juga tak lupa membawakan Hadist popular ini: I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Kadang-kadang, dirangkaikan pula dengan firman Allah dalam Surat al-Qashash (28), ayat 77:“Wabtaghi fiimaa aataakallahu 'd-daaral aakhirata walaa tansanashiebaka min ad-dunya....” yang menurut terjemahan Depag diartikan,“Dan carikan pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi…”.