Mengakui Kesalahan 5 Desember 2009 10:35:53 | Share
"Mengakui kesalahan dan meminta maaf dan memberi maaf secara tulus, sama-sama membutuhkan keberanian dan sama-sama mulia"
KOMENTAR
Adipurwanto (Adi) menulis: Meminta maaf & memberi maaf sama2 butuh kebesaran jiwa.
Adipurwanto (Adi) menulis: berbuat salah memang jauh lebih mudah drpd mengkui kesalahan & sama2 butuh jiwa besar utk meminta & memberi maaf.
luqi saadilah farindani (uqi) menulis: tapi hari ini banyak orang bersalah yang tidak mau mengakui kesalahannya, dan banyak orang yang merasa dirinya paling benar........
ashadi (aswan) menulis: walaupun kdan kita terasa sulit tuk malakukannya.....
arif khunaifi (nefi) menulis: Semoga kita semua bisa mengamalkannya.
Roudlotun Najah (Roudloh) menulis: Semoga kita bisa muhasabah dan memohon maaf atas smua kesalahan
Robiatin Mustagfiroh (Atin) menulis: yang paling mulia memaafkan tanpa perlu menunggu orang lain meminta maaf...subhanallah
Wibowo Setyo Utomo (Bowo) menulis: .... kecuali pemberian dan permintaan maaf politisi kita, ttp lain utk seorang negarawan, ulama yg Kyai, seniman yg budayawan pasti ditambah doa dan doa itu tulus.
jauhar faradis (firdaus) menulis: meminta maaf merupakan suatu perbuatan mulia namun banyak orang yang tidak mau meminta maaf walaupun mereka tau bahwa mereka bersalah
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.