Lupa Kepada Allah 16 Desember 2009 19:47:54 | Share
"Janganlah sampai organisasi atau partai kita membuat kita lupa kepada agama kita dan janganlah sampai agama kita membuat kita lupa kepada Allah, Tuhan kita..."
KOMENTAR
Robiatin Mustagfiroh (Atin) menulis: jangan sampai organisasi atau partai kita membuat kita (ummat manusia dan ummat islam) berpecah belah..silaturrahim tetep nomor wahid ya...
Didin Riswanto (Didin) menulis: amin. yang terpenting adalah ingat dan selalu bersama-NYA!!
isnaidin mamonto (is) menulis: Terkadang kita lupa kepada Allah, ketika apa yang akan kita lakukan tanpa didasari oleh keinginan untuk mendapat ridho Allah.
Didin Riswanto (Didin) menulis: semoga!
Abdul Aziz Mudhoffar Afifi (Abduh) menulis: jangan sampai organisasi atau partai kita membuat kita lupa kepada Al-Qur'an (kalamullah)
Fachrudin Alwi (alwi din) menulis: Leres Gus
purwanto (ipung) menulis: tanpa agama, bisakah kita sampai pd Allah?
Rahman Lillahi (rahman) menulis: lha itu dia gus, kebanyakan saudara kita sangat kenal dg agama tapi sama sekali tidak kenal dg tuhannya, sehingga MEN-TUHAN-KAN agama.
Rahman Lillahi (rahman) menulis: lha itu dia gus. kebanyakan saudara kita sangat kenal dg agamanya tetapi tidak kenal dg tuhannya. shg agama di-TUHAN-kan.
eko priyono (eko) menulis: yang lupa agama tentu politisi yang tidak lupa agama tentu negarawan
Akhsanuddin (Akhsan) menulis: “Bukan termasuk Ummatku orang yang mengajak pada Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah” (HR Abu Dawud).
fuad ways alqurni (fuad) menulis: Semua agama berasal dari pohon yang sama dan semua ingin merasakan manis buahnya...
fuad ways alqurni (fuad) menulis: Apapun agamamu yang penting ber manfaat bagi orang lain...
huda albaroni (huda) menulis: partai dn agama boleh di ingat,tapi yang tidak boleh lupa adalah Alloh SWT,tuhan kita..
iwan setyawan (iwan) menulis: inggih Mbah Kyai..tapi setan politik niku pinter2,kedah wonten laku dzikir khusus kagem politikus dan organisator..supados tetep saget dzikir sanajan wonten suasana debat utawi lobbi2..dipun fatwaken kemawon Mbah..
pramu aristi umar (umar) menulis: Dan janganlah Alloh sampai membuat lupa kepada kita.
Taufiq Wr. Hidayat (Gus Taufiq) menulis: jangan lupa kepada Allah, gara2 organisasi dan partai terus melupakan Allah, apalagi sampai lupa makan, bisa bikin sakit perut dan kena maag. Lupa kepada Allah adalah pintu utama lupa diri, lupa daratan, lupa lautan dan udara..
luqi saadilah farindani (uqi) menulis: mungkin saking semangat ngurusi organisasi (kendaraannya) jadi lupa mw kmana arah kemudinya...
Moch.Zainal abidin (mas pitik) menulis: sangat indah.....
muhammad ja'far effendi (ja'far) menulis: itulah gus, jangan-jangan saya masih pada taraf : "agama partai" , atau mungkin bahkan baru "partai agama"
abdulmukit (ab) menulis: ya.... kita sebagai hambaNya harus berusaha seperti itu
abdulmukit (ab) menulis: tidak lupa padaNya itu membutuhkan cinta padaNya........
Zaenul Muttaqin (Zaenul) menulis: lerez mbah
iqbal maulana (maulana) menulis: meski lupa adalah gawan manusia, tapi jika sampai lupa pada Alloh sudah tak bisa di sebut manusia lagi
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.