Pembaca. Pemilihan Presiden telah usai dan rakyat telah memberikan suaranya kepada tiga pasang calon presiden-wakil presiden. Semoga presiden dan wakil presiden terpilih mampu amanah menjaga kepercayaan rakyat serta berjuang memajukan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat konstitusi.
Dengan dimulainya pemerintahan baru nanti, maka ada baiknya kita sejenak merefleksikan tujuan kita bernegara dan berbangsa dengan menengok perjuangan para pendiri republik ini terutama dari kalangan ulama dan kyai di masa lampau yang ikhlas memperjuangkan eksistensi republik ini tanpa mengharap pamrih jabatan kekuasaan. Banyak sekali kyai, ulama dan santri yang turut mengangkat senjata di masa revolusi kemerdekaan namun ketika perang usai, mereka kembali mendidik rakyat melalui pesantren dan tidak meneruskan karier militer dan birokrasinya. Hanya sedikit nama para kyai dan ulama yang tercatat dalam tinta emas sejarah, padahal peran mereka sungguhlah sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan republik yang kita cintai ini.
Kami mencoba mengupas peran dan perjuangan para kyai dan ulama yang berjuang mendirikan Republik Indonesia pada edisi ini sambil berharap umat Islam, warga bangsa dan presiden-wakil presiden terpilih dapat meneladani jejak perjuangan mereka.Dapatkan edisi terbaru Majalah MataAir di toko buku Gramedia se-Jakarta atau hubungi 021-8297329 (Fauzi) atau SMS ke 081319333151
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk tulisan ini
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.