Di edisi ini, kami sengaja mengangkat tema tentang terapi puasa buat pecandu narkoba. Tema ini kami pandang sangat penting, mengingat dari banyak data yang terhampar, pengguna narkoba di negeri kita ini meningkat tajam. Ini sungguh suatu fakta yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi, banyak pengguna narkoba itu adalah anak-anak muda. Di sisi lain, fakta ini menguapkan suatu hal yang ironi. Apa pasal? Negeri kita dikenal dengan masyarakatnya yang agamis. Umat Islam menempati rangking mayoritas. Jadinya, mengapa fakta penggunaan narkoba ini bisa terjadi dengan begitu pesat perkembangannya? Apa yang salah dari kita? Padahal, sudah cukup banyak institusi anti narkoba didirikan. Terapi-terapi untuk menyembuhkan narkoba juga banyak digunakan.
Nah, di momen bulan Ramadhan ini, rasanya sangat tepat untuk mengangkat puasa sebagai terapi. Puasa bukan hanya sekedar ritual, tetapi di dalamnya terkandung banyak manfaat praktisnya termasuk untuk kesehatan. Di sinilah, makna penting tema ini untuk mengedepankan puasa menjadi sarana terapi bagi pecandu narkoba.
Dapatkan Majalah MataAir di toko buku Gramedia dan Gunung Agung se-Jakarta atau hubungi Kantor kami di 021-8297329 atau SMS di 081319333151.
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk tulisan ini
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.