Pada edisi ini, kami mengangkat tentang “mati syahid”. Sebuah tema yang sepertinya “angker” karena bicara tentang kematian. Tapi, yang satu ini bukan kematian biasa, melainkan kematian yang diyakini bertabur ”bau surgawi”, sehingga banyak muslim yang mendambakannya. Hanya saja, yang kerap menelingkupi benak sebagian muslim, kesyahidan lebih diidentikkan dengan kematian di medan perang atau –malah seperti keyakinan teroris- kematian lewat bom bunuh diri. Kami mewawancarai mantan Ketua MPR Dr. Hidayat Nur Wahid untuk mengungkap fenomena mati syahid ini. Tidak ketinggalan tulisan Gus Mus tentang mati syahid dan Ruang Ratih yang membahas gaya hidup dan problematika muslimah serta zodiak Islami ”Menghitung Bintang Leo”.
Rubrik Syifa edisi ini membahas ”Sehat dengan Shalat Subuh”. Di edisi ini juga kami memuat laporan penyaluran Beasiswa MataAir ”Dari Kita untuk Bangsa” yang diberikan kepada sejumlah mahasiswa PTN di Indonesia.
Dapatkan Majalah MataAir melalui agen di sejumlah kota:
1. Bekasi : Ahmad Muzakkir (021-3327329)
2. Bandung : MataAir Bandung (08170271577)
3. Semarang : Mahkota Agency (024-6716579)
4. Surabaya : 999 Media Agency (031-5340670)
5. Yogyakarta : MataAir Yogya (08121579671)
6. dan kota-kota lainnya (Rembang, Pati, Solo, Kudus, Jepara, Demak, Sidoarjo, Cilacap, Kediri, Lampung, Malang, Blora, Jombang, Klaten, Pekalongan, Pemalang, Tuban, Batang dan Purwakarta.
Untuk wilayah Jakarta, anda bisa dapatkan di Toko Buku Gramedia atau hubungi Kantor kami di 021-8297329. Bagi anda yang ingin menjadi agen di kota anda, dapat menghubungi SMS Center; 081319333151.
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk tulisan ini
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.