Ada banyak isu yang saat tengah menghentak kenyamanan negeri kita. Persoalan pertikaian antara KPK dan kepolisian sepertinya telah menyita banyak perhatian masyarakat. Ditengah situasi yang “memanas” itu, ada isu yang rasanya kelewatan dan tak banyak menyodok perhatian masyarakat. Yaitu, fakta jumlah penduduk Indonesia pada 2019 bisa mencapai atau menyentuh angka 300 juta jiwa, jika pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) tidak berjalan dengan baik. Fakta ini telah membuat departemen terkait seperti BKKBN dan Depsos kelimpungan. Kita pun kerap melihat tayangan iklan tentang KB yang berslogan “dua anak cukup” di televisi. Ada apa gerangan? Memiliki anak memang hak asasi setiap orang.
Hanya saja, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentunya perlu semacam “rambu-rambu” untuk bisa “mengelola” jumlah kelahiran anak agar negeri ini tidak sempoyongan. Karena itu, sudah tepat jika pemerintah menggiatkan kembali program KB yang dulunya dirasa berhasil dan sekarang mulai tergusur.
Lalu, kenapa KB sepertinya mulai ditinggalkan? Apakah ada kaitannya penurunan sikap terhadap KB ini terkait dengan maraknya pandangan keislaman yang puritan dan fundamentalis. Faktanya, dikalangan mereka ini memperbanyak anak merupakan pahala dan juga demi menambah generasi Islam kelak. Akhirnya pula, perdebatan soal hukum KB mencuat kembali. Inilah yang menarik untuk mengangkat tema ini.
Dapatkan Majalah MataAir melalui agen di sejumlah kota:
1. Bekasi : Ahmad Muzakkir (021-3327329)
2. Bandung : MataAir Bandung (08170271577)
3. Semarang : Mahkota Agency (024-6716579)
4. Surabaya : 999 Media Agency (031-5340670)
5. Yogyakarta : MataAir Yogya (08121579671)
6. dan kota-kota lainnya (Rembang, Pati, Solo, Kudus, Jepara, Demak, Sidoarjo, Cilacap, Kediri, Lampung, Malang, Blora, Jombang, Klaten, Pekalongan, Pemalang, Tuban, Batang dan Purwakarta.
Untuk wilayah Jakarta, anda bisa dapatkan di Toko Buku Gramedia atau hubungi Kantor kami di 021-8297329. Bagi anda yang ingin menjadi agen di kota anda, dapat menghubungi SMS Center; 081319333151.
KOMENTAR
Saefuddin Hamzah (Uu) menulis: kalau jumlah penduduk Indonesia menyentuh 300 juta maka pemerintah perlu menggalakan kembali program KB dengan cara-cara yang aman dalam pandangan Agama, kalau yang punya pandangan banyak anak banyak pahala atau banyak umat saya kurang sependapat ,karena realita yang ada mayoritas umat ini baru mampu mengembangkan keturunan sedangkan pemeliharaan agar menjadi keturunan/anak yang baik belum bisa,lihat saja berapa banyak generasi kita yang taat beribadah ? apakah kita mengharapkan umat islam yang kuantisas ? tentunya tidak,kita semua berharap umat Islam yang berkualitas. Oleh karena itu perlu adanya penataan dalam keluarga secara menyeluruh.
eko yuliasmara (eko) menulis: MENURUT SAYA SEBELUM MELANGKAH PAHAMI DULULAH APA ITU KB KARENA KB BANYAK MACAMNYA DAN SALAH SATUNYA DENGAN MENAHAN HAWA NAFSU DISAAT SAAT TERTENTU,KB TANGGALAN.
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.