Cara Keledai Membaca 1 September 2009 12:37:43 | Share
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, "Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin. "Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca." Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"
Nasrudin berkisah,"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar." "Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas,"Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"
Nasrudin menjawab,"Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
KOMENTAR
abdullatif (latif) menulis: timur lenk, seperti para kebanyakan petinggi pemerintah sekarang aja.... ngasih sesuatu pasti dengan ketentuan yang aneh, untung kalo yang dikasih kaya' nasrudin, bisa menghasilkan sebuah nasihat atau pesan. coba kalo yang dikasih orang desa yang bodo... apa KaTa DuNia??????
Dodi Pamilarso (Emde Dodoy) menulis: Untung cuma si keledainya gus..., gimana coba kalau si pemilik keledainya...?
ye (ye andri) menulis: orag desa lbih bijaksana dari pada orang kota.
hendaknya Latif bijak juga dalam menggunakan, siapa orang kota? siapa orang desa?
persepsi anda mohon di koreksi.
Mungkin,... anda seperti yang dimaksud cerita diatas. Kurang bijak
Didin Riswanto (Didin) menulis: WAHHH... Nasrudin kui memang otaknya jempolan. bisa menyikapi setiap tantangan dengan segar dan cerdas (tentu saja).
lha nek ga bisa make otak!!! bisa bisa sial terus heheheh
@mas latif: coba Indonesia banyak NAsrudin pasti deh semua hal bisa disikapi dengan cerdas, dan gak ndeso......
AH SAYA INGAT SALAH SATU SCENE DALAM KCB.
APA KATA KAIRO?
mukhtarom (mr.roems) menulis: masih banyak dikalangan kita (muslim red) termasuk diriku yg masih baru sekelas membaca, kita punya Al-Qur'an yg begitu tinggi nilainya tapi baru sekelas dibaca, belum bisa mengamalkan dengan baik.
abdullatif (latif) menulis: nyuwun pangapuntene mas andre.... terima kasih nasihatnya,
yazid ahmad (yazid) menulis: aku baru tu kalo timur lenk itu sulta harun al rasyid benar nggak?
Wibowo Setyo Utomo (Bowo) menulis: ... Nasrudin benar dia seorang penerima amanah yg lurus dan baik, bahkan apbl santri, dia pasti santri yg patuh pada Kyai. Masalahnya yg kebangeten timur lenk, sdh tahu keledai itu tolol disuruh ajari baca.
Novianna (Nopey) menulis: Wah,q khawatir..jgn2 aku lah "keledai" tu...
Ahmad Najamudin (donga) menulis: he...he.....he.....pintarnya keledai eh.. Nasruddin.
Ali Mashal (Ali) menulis: "Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
He..
semoga kita bukan seperti keledai
wawan setiawan (wawan) menulis: mbak nopey gak usah khawatir. insya Allah kita-kita ini bukan termasuk keledai. kan pinter komentar . . . . (mungkin kita dari jenis yang lain . . . he he he . . .)
Henky setiawan (Henky) menulis: Ternyata sampai detik ini aku masih seperti keledai ya...? yang cuma bisa tersenyum membaca crita humor gusmus..... trus kasih komentar sok pintar....
Ya Allah Buka kan pikir ku....
aulia rahmawati (aulia) menulis: moga-moga kami semua bukan termasuk golongan 'keledai' itu...
Akhsanuddin (Akhsan) menulis: Subhanallah, ternyata masih ada kata-kata yang sangat santun untuk sekedar menegur jiwa ini. Seharusnya memang seperti kiasan (yang sudah ditambah), ... Dari mata naik ke otak lalu turun ke hati, keluar melalui mulut, tangan dan kaki !
Yusriono Garjito (Yus) menulis: Ah, kena juga. Banyak dari kita yang malessss buka buku apalagi membacanya. Kita kayaknya lebih senang dengerin cerita dech daripada membaca buku. Gimana kita mau pinter hayoh
Eka Herawati Rahayuningsih (Ayu/ Hera) menulis: menyesuaikan diri dan beradaptasi kemudian sesuaikan mind set
yulwhinar eka saputra (eka) menulis: keledai itu "membaca buku" untuk "sekedar mencari makanan", boleh nggak ya, dianggap jihad biologis?
menurut saya lucunya justru begini, kok sepertinya saya sering lihat manusia yang kualitasnya "setara" keledai itu ya.. hehe..
(untung saya belum begitu bisa "membaca")
sutarto (tarto) menulis: Orang-orang jaman sekarang tidak beda jauh dengan keledai.suka membuka buku tapi tak tahu isinya.
muhammad ziaul haq (ulhaq) menulis: banyak makna untuk mengingatkan saya
kunjariyanto (kunjari) menulis: butuh kerja keras membaca buku sekaligus mengerti maksudnya..., tapi itu harus dilakukan" buat apa baca buku kalau ndak maksud isinya"
M.AHSANNURI (SANURI) menulis: keledai buka lembaran-lembaran buku hanya untuk cari makanan, kalau manusia cari ilmu hanya untuk cari makan lebih parah enggak ya...ah payah aku.
Agus Hartono (agushar) menulis: Memang benar, kebanyakan kita ini keledai. keledai yang mabuk. karena bersuara tanpa mengerti arti dan maknanya. tapi ya memang begitulah. wong kebanyakan diri kita ini menyediakan diri untuk bahan bakar neraka kok. semua itu karena kita salah dalam mempersepsi tiga komponen pemberian Allah. yaitu Mata, Telinga dan hati. akhirnya ya begini ini. jadi binatang ternak. bahakan lebih sesat lagi. kebanyakan diri kita adalah orang yang lalai.
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.