"Ora Usah Melu Macam-macam" 7 Desember 2009 13:04:04 | Share
Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU). Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan Pelajar NU).
Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.
Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.
Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho?? (Alf)
KOMENTAR
yusufburhan (burhan) menulis: ha ha ha ha,
susanto (hasan) menulis: memang dunia ni penuh dg macam2 dan beraneka ragam jenis dan pilihan,maka hanya da satu pilihan diantara sekian banyak pilhan kembali kejlan Allah......
Ahmad Zabidi (Zabidi) menulis: Setuju, klopun ada partai NU saya ikutan dukung....
DJAMSARI (DJAM) menulis: Itu artinya mikul dhuwur mendhem jero.
muhammad muchlish (clies) menulis: sam'an watho'atan kan ???? he he
Mundhori (Mundhori) menulis: Fanatik namun tak mudheng
luqi saadilah farindani (uqi) menulis: ada wasiat yang ke tinggalan gus'....harusnya "bapak"nya (Alm) bilang klo udah beres di ipnu masuk pmii...
Nur Chamid (Noer) menulis: Iyo iki kados mbah kulo rumiyin
Didin Riswanto (Didin) menulis: wis kebangeten tenan heheheh.... untung cuma guyon. lha nek tenanan opo rak malah blaik.
ahmad zubaidi (baid) menulis: saking fanatiknya
Fachrudin Alwi (alwi din) menulis: wah wong N U kan
Mustofa (Mbah ova) menulis: Cerita yg bagus....hidup NU..
Mustofa (Mbah ova) menulis: Ha..ha..ha...bgus critanya....hidup NU
Ah. Samsul Bachri (samsul/bachri) menulis: hehe..dados tiyang memang kudu bekti marang bojo.
assafanjany (assafanjany) menulis: Pasti bapaknya bernama IPUNg....
Moch.Zainal abidin (mas pitik) menulis: seng penting melu IPNU , senajan gak mudeng ndah...
eko yuliasmara (eko) menulis: siplah kayak aku kemarin disuruh milih pns. pilih sebelah kanan 75jt+,sebelah tengah 50jt+pa disebelah kiri ongkos materai ongkos naik angkutan, legalisir ktp ,ijasah paspoto 3+4=4lembar(harusnya 3*4=12)dan harus sehat versi puskesmas. jangan lupa sebelah kiri harus MINGGIR
yulwhinar eka saputra (eka) menulis: semoga segenap organ NU mampu membawa warga nahdliyin semakin kritis dan cerdas..
(lho! padahal itu kan surat pertama ya? iqra bismirobb... hehehe)
Muhammad Syafii Masykur (Syafii) menulis: Yach....kalau saya di Sleman menganjurkan adik-adik saya ikut IPNU tapi tidak membolehkan mereka ikut IBNU....(Lha mau ngapain di penjara?)
ahmad khusaeni (ahmed) menulis: ya kaya' gitu... memang keadaan NU grass-root.. tapi menggelikan juga yo.... hahahahahahahahahahhah.......
Eka Herawati Rahayuningsih (Ayu/ Hera) menulis: Pendidikan sangat penting juga dimiliki oleh kaum hawa agar tidak seperti guyonan diatas....ibu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya agar generasi penerus dapat maju dan lebih baik....
kunjariyanto (kunjari) menulis: wah...ibunya harus diberdayakan gus..
Lukman Faishol (Lukman) menulis: wakakakakaka....
Asfa (Widiyanto) menulis: guyonan yang sangat mengena. makasih Gus. tulisan-tulisan Gus banyak menginspirasi saya. nuwun, Asfa Widiyanto, Bonn
http://asfa-widiyanto.blogspot.com/
Ahmad Ali Husain (Husain) menulis: hehehehehehe ikut nyumbang senyuman bah.... ini fenomena riil di masyarakat ....
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.