15 tahun yang lalu, aku menulis sajak satu baris berjudul Negeriku :
NEGERIKU
Negeriku telah menguning
Kini aku tergoda menulis sajak serupa. Ini jadinya:
NEGERIKU
Negeriku mulai membiru
KOMENTAR
yumna yusra (yuyu) menulis: Gus, Jadi ingat lagunya Phil Collins, "When I'm feeling blue..all I have to do is take a look at you (Thou), then I'm not so blue..."
You-nya kita ganti Thou saja ya, krn hanya menatap dan ditatap Allah kita bisa merengkuh damai.
Tapi ngomong2, biru yang Gus maksud di sajak itu jangan2 berbeda dengan biru yg saya maksud... Maaf..
aulia rahmawati (aulia) menulis: assalamu'alaikum
... bah itu artinya apa bah?
menguning... saya merasakan sensasi 'padi' berarti mau panen mau dapat rahmat begitu..
kalau membiru.. kok memberikan kesan akan ada sesuatu yang buruk ya bah...?
Akhsanuddin (Akhsan) menulis: ... Jika dulu 'menguning' dan sekarang 'membiru', adalah pengkiasan dari perpolitikan negeri ini ... (partai yang menang/berkuasa), entah besok apa ... karena dunia politik susah diterka ... sekarang musuh, besok sudah saling berangkulan ...
Mundhori (Mundhori) menulis: Komentar puisi Negeriku. Dengan puisi walau hanya melalui satu kalimat sudah mampu menggambarkan situasi politik suatu saat. 18 tahun yg lalu Indonesia masih dikuasai oleh Golkar dengan simbul warna kuningnya. Negeriku mulai menguning. Dan sekarang partai Demokratlah yg menguasai politik negeri ini. Maka negeriku mulai membiru. Simbul warna partai Demokrat. Sungguh hebat Gus Mus itu.
Wibowo Setyo Utomo (Bowo) menulis: ...branding nya segitiga bak senjata ampuh Ninja yg mematikan itu. Mudah penggunaannya ckp dilempar, yg terkena pasti mampus. Astaqfirullah
Hilmi Matin (Bruzz) menulis: Semoga abah tidak tergoda (lagi) untuk menuliskan sajak :
"Negeriku akhirnya kelabu".
Abi (Darda) menulis: Kira-kira kapan,atau ada kmungkinan ga' Abah menulis sajak..
"Negrik Akan(Telah) Menghijau"
muhammad muchlish (clies) menulis: Negeriku sebentar lagi menghitam...
Abu Darda (Darda) menulis: Kira-kira kapan abah akan menulis sajak "Negriku telah Menghijau"..?
mahindria v v (indri) menulis: Gus....dulu negriku menguning karena rakyatnya anemia...akibat banyak yang cacingan n kurang gizi. Sekarang..membiru karena sesak napas...tercekik...
Wawan Sukmana Irawan (kang Wawan) menulis: Jika negeriku = televisi
mungkinkah abah akan menulis
Negeriku kini berwarna-warni.....
Eka Herawati Rahayuningsih (Ayu/ Hera) menulis: apalah arti sebuah warna...yang terpenting hanyalah kapan negeriku akan aman, damai, sentosa, makmur, pokoke rakyat cuma pengen negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharjo...duh gusti....kapan negeriku akan mencapai?
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.