KH Ali Yafie, Prihatin dengan Pesantren 1 September 2009 12:54:52 | Share
Dengan dipapah saat hendak menaiki podium untuk memberikan sambutannya dalam acara peluncuran buku biografi KH Muhammad Ilyas di Hotel Borobudur Agustus lalu, tak membuat Kyai Ali Yafi terlihat gontai. Sesepuh NU dan MUI ini tampak tetap bersemangat dan berwibawa. Apalagi yang mau dibicarakan tentang peranan kyai dan pesantren.
KH Ali Yafi banyak mengulas dan bercerita tentang sosok, peran dan pemikiran KH. Muhammad Ilyas dalam kaitannya dengan kemajuan umat dan bangsa Indonesia.
Namun, KH Ali Yafi sepertinya juga hendak menghablurkan uneg-unegnya tentang kondisi pesantren saat ini. “Saya prihatin dengan keberadaan pesantren sekarang yang diletakkan pada posisi tertuduh dalam keterlibatannya dengan terorisme,” ujarnya dengan suara parau nan lembut.
Kyai asal Pare-Pare Sulawesi Selatan ini, kemudian mencoba mengingatkan peran dan jasa pesantren-pesantren dengan para kyai-kyainya dahulu dalam turut merebut kemerdekaan bangsa. “Peran pesantren dan kyai-kyai dahulu tidak bisa diragukan lagi. Contohnya, ya KH Muhammad Ilyas ini,” tegas mantan musytasyar PBNU ini.
KH Ali Yafi berpesan untuk belajar mencontoh kiprah dan perjuangan para ulama-ulama dahulu dengan keikhlasannya berjuang demi kemaslahatan dan kemajuan bangsa. Cocok, Kyai! {mz}
Nurul Anwar (Nurul) menulis: reorientasi pendidikan pesantren,bukan hanya mengkaji tapi bagaimana menjabarkan nilai ke islaman menjadi budaya bangsa kita...
AMIR SYARIFUDIN (SASTRO) menulis: Orang yang menuduh Pesantren terlibat dalam kegiatan teroris.Orang yang ga tau pesantren atau sengaja mengkambing hitamkan pesaantren.Maju terus pesantren Indonesia
Wibowo Setyo Utomo (Bowo) menulis: Maaf Kyai tdk semua pesanten kok, tertentu saja. Banyak pesantren besar yang juga menelurkan cendikiawan top. Ulil, Bang Komaruddin, Dien Syamsuddin, Kyai Hasyim Muzadi, Ketua MPR kita dan masih banyak lagi. Masalahnya Gus Mus hanya ada satu yaitu MUSTOFA BISRI bin Bisri Mustofa bin Samsuri Bisri. Sungkem kulo katur Gus
M. ARCHAM UBAIDILLAH (ARCHAM) menulis: Saya kira betapa dangkalnya pemikiran orang yang mengatakan pesantren sebagai sarang teroris. Seharusnya ia bisa melihat betapa besar manfaat yang telah dihasilkan pesantren. Mengapa ia menutup mata denga fakta ini. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, diantara orang2 yang menuduh pesantren sebagai sarang teroris adalah saudara kita sesama muslim.
Jaswadi (jas) menulis: Setuju yai santri harus bangkit tidak boleh melempem.Tidak semua pesantren kok yai yang dituduh.Sekarang ini kyai harus keluar dari kandangnya untuk melindungi ummat.
Akhsanuddin (Akhsan) menulis: ... Buka mata dan telinga serta fikiran yang jernih, jangan terlalu kita menyalahkan orang di lingkungan luar dan janganlah berbangga diri. Musuh dan kesalahan kita ada pada diri kita sendiri, terpecah belah serta mengagungkan kelompok. Wahai kaum muslim, bersatulah dan bangkit !!!
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.