KH Nuril Huda, Harus Ikhlas dalam Berdakwah 9 Nopember 2009 10:57:52 | Share
Di kalangan Islam, keikhlasan para dai dan daiyah dalam berdakwah masih sangat kurang, sehingga apapun aktifitas dakwah selalu dikomersialkan. Artinya, semua aktifitas dihitung dengan keuangan. Demikian pendapat KH Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) mencermati perkembangan dakwah Islam di tanah air.
Dalam melakukan pengkaderan dai/daiyah di lingkungan NU, KH Nuril Huda akan mencari orang-orang yang punya keikhlasan, berwibawa, giat dan berakhlakul karimah. "Saya juga mencari orang idealismenya kuat, baik tua mapun sepuh (tua). Sepuh yang bisa menjadi contoh bagi yang muda, dan anak muda yang bunya iktikad baik pada NU dan mengerti akhlaq NU. Akhlak NU itu ya hormat kepada orang dan hormat kepada guru", urai KH Nuril Huda, pria kelahiran Pekalongan yang sudah dua periode memimpin LDNU.
"Setiap diundang orang, saya tidak pernah tanya “amplop”. Kalau ada yang ngomong gitu, langsung saya tutup hand phone saya. Saya ini bukan muballigh bayaran. Saya punya pengalaman hidup, harta banyak tidak lebih, dan harta sedikit juga tidak kurang" tandas KH Nuril Huda yang sudah berdakwah sejak mahasiswa dengan ikut mendirikan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), organisasi mahasiswa yang berinduk ke NU. (Alf/Diolah dari duta masyarakat)
KOMENTAR
Eka Herawati Rahayuningsih (Ayu/ Hera) menulis: berjuang terus dan semangat dalam dakwah...salute to KH Nuril HUda.
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.