Jelang Muktamar NU, Makassar 2010: PBNU akan Bentuk Organisasi Mahasiswa NU? 5 September 2009 12:41:56 | Share
Menjelang digelarnya Muktamar ke-32 NU di Makassar, keberadaan organisasi mahasiswa yang secara langsung berada dibawah struktur PBNU kembali dibincangkan dalam halaqah pra-muktamar yang diselenggarakan di Jakarta, Agustus 2009 silam.
Ada dua pandangan besar diantara peserta halaqah. Ada yang menginginkan dibentuknya organisasi mahasiswa baru, sedangkan pendapat kedua berkeinginan untuk memaksimalkan organisasi yang saat ini sudah ada, yaitu IPNU (Ikatan Pelajar NU), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU).
Kelompok yang setuju pendirian organisasi mahasiswa baru berpendapat, organisasi ini penting untuk merawat dan mengembangkan jaringan mahasiswa dengan ideologi ahlusunnah wal jamaah yang saat ini menghadapi tantangan kelompok wahabi/ikhwan.
Keberadaan PMII dan IPNU dianggap kurang mampu mewadahi, karena PMII sudah dinilai semakin jauh dari ajaran NU, sedangkan IPNU kurang diterima dikalangan mahasiswa karena diperuntukkan untuk segmen pelajar sekolah menengah, yaitu kalangan SMP-SMA atau Tsanawiyah dan Aliyah.
Sinyalemen bahwa PMII sudah semakin jauh dari NU karena menyatakan independen dari NU sejak 1972 dibantah oleh aktivis PMII di UI, Ahmad Munir. Munir menyatakan bahwa PMII justru menjadi garda depan dalam dakwah Islam ahlussunnah wal jamaah di UI. “Walaupun Kampus UI menjadi pusat gerakan Ikhwanul Muslimin, kami tetap konsisten berjuang mengajak rekan-rekan mahasiswa UI masuk PMII dan mengenalkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamiin serta masih mengamalkan ubudiyah khas NU seperti tahlil, manaqiban dan istighotsah,” urai Munir yang kuliah di jurusan Geografi UI.
Munir berharap PBNU jangan membuat organisasi mahasiswa baru, tapi lebih mengoptimalkan organisasi yang sudah ada terutama IPNU-IPPNU. “IPNU harus memotivasi dan memfasilitasi pelajar-pelajar NU agar bisa kuliah di kampus-kampus unggulan dan setelah masuk kampus bergabung dengan PMII agar tidak putus kaderisasi ke-NU-annya”, tandas Munir yang juga alumni Pesantren Kilat Sukses SNMPTN 2008 yang diselenggarakan Yayasan MataAir Jakarta. (alf)
KOMENTAR
husni mubarak (kg husni) menulis: sangat setuju dg ppran n ide segarnya kang munir, sbb yg dperlukan hanyalah optimalisasi n revitalisasi PMII. Dan tercptanya sbuah korelasi simbiosa mutualisme dg IPNU/IPPNU serta dgn Badan2 Otonom lainnnya.....tapi kadang a jg bingung knapa PMII masih mengindependenkan diri? masih relevankah alasan yg doloe2 tu kang?
abdullatif (latif) menulis: berjuang terus kang munir... PMII?? apa kabar?? ketika dalam lumbung ada tikus yang masih bisa dihitung maka bunuhlah tapi ketika lumbung sudah dikuasai tikus, mungkin ngga' ada salahnya kalau membuat lumbung baru yang lebih maslahat,,,,
abdul azhim el_fadily (mas) menulis: sebaiknya pbnu tetap dan bahkan lebih memperhatikan anak asuhnya (ipnu), daripada harus menciptakan anak baru lagi yang pada akhirnya sama-sama tidak terurus. dan saya setuju dengan independensinya pmii dalam menjalankan ndp-nya, bagaimanapun tanpa ikatan legal ke-ahlussunnahan pun pmii sudah menjadi bagian penegak ahlussunnah wal jama'ah. kalau soal karena ketidak aktifan mahasiswa pmii dalam menjaga aqidah ahlussunnah itu kembali pada masing-masing individu, yang penting organ pmii tetap pada jalur aqidah tersebut.
yazid ahmad (yazid) menulis: sangat setuju kalo yang sudah ada masih baik, sebaiknya tambah dimaksimalkan aja yang penting adalh komunikasi antara NU dan PMII Lebih ditingkatkan lagi
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.