Petunjuk Pemanfaatan Website
Agenda Buku Tamu
F.A.Q » Frequently Asked Question
Kembali ke halaman depan
Halaman Utama Percik » Kata-kata Mutiara Telaga » Kajian Tasawuf dan Tafsir Gemericik » Humor ala Gus Mus Embun » Budaya Teratai » Kisah Ringan Teladan Tepian » Komentar atas Berita dan Tulisan Rumput » Dunia Santri Gerimis » Doa-doa Tunas » Kiprah Pemuda Muara » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
« September 2010 »
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30    

PERCIK » Kata-kata Mutiara
»Mengintip Keindahan Hati (2 Agustus 2010 18:49:34)
»Gamang (20 April 2010 12:24:51)

TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir
»Bahasa Geram (18 Juni 2010 14:00:10)
»Dakwah vs Menakut-nakuti (21 April 2010 13:23:57)

GEMERICIK » Humor ala Gus Mus
»Kecap dan Jeruk Nipis (4 Mei 2010 12:08:39)
»"Ora Usah Melu Macam-macam" (7 Desember 2009 13:04:04)

EMBUN » Budaya
»berita-derita (30 Juli 2010 17:09:36)
»? (8 Juni 2010 12:26:19)

TERATAI » Kisah Ringan Teladan
»Iwan Fals Kagumi Gus Mus (5 Juli 2010 23:02:53)
»Prof. Dr. Mahmud MD, Bercermin pada Wafatnya Gus Dur (4 Mei 2010 12:14:35)

TEPIAN » Komentar atas Berita dan Tulisan
»Membaca Jejak Kontemplasi Gus Mus (28 Agustus 2010 13:16:13)
»Gus Mus: Idham Chalid Bapak Politik NU (13 Juli 2010 09:23:04)

RUMPUT » Dunia Santri
»Maulana Abdulmalik Israel: Yahudi Penyebar Islam Tanah Jawa (4 Mei 2010 12:03:01)
»KH ZAINUL ARIFIN; Mengenang Seabad Sang Wakil Perdana Menteri (14 Nopember 2009 10:09:40)

GERIMIS » Doa-doa
»DOA IJAZAH RASULULLAH SAW KEPADA SHAHABAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIEQ R.A. (30 Nopember 2008 08:31:08)
»Doa Ma'tsurat (16 Agustus 2008 11:39:51)

TUNAS » Kiprah Pemuda
»Pengkaderan Tunas Muda NU Yang Mengkhawatirkan (Sebuah Usulan Untuk Muktamar NU) (16 Februari 2010 00:38:20)
»Pesantren Kilat MataAir Sukses Masuk PTN 2009: "From Pesantren to PTN" (28 Januari 2010 07:03:25)

MATA AIR » Napak Tilas
»NU dan Garasinya (15 Maret 2010 20:14:41)
»FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH (16 Nopember 2009 10:17:04)

MUARA » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
»Permainan Sepakbola (16 Juni 2010 17:02:26)
»NU Mazhab Revisionis (4 Mei 2010 12:21:08)

Komunitas MataAir menyampaikan tahniah 'Ied kepada Anda semua, "Selamat Hari Raya Fitri 1431, Kullu 'aamin waAntum bikhair" Mohon maaf lahir-batin...
TUNAS » Kiprah Pemuda

Pengkaderan Tunas Muda NU Yang Mengkhawatirkan (Sebuah Usulan Untuk Muktamar NU)
16 Februari 2010 00:38:20 | Share

 

Muktamar NU yang akan berlangsung Maret 2010 sudah mulai meramaikan media massa. Sayangnya wacana yang beredar hanya sekitar persoalan kandidat ketua umum PBNU. Jarang yang mengangkat wacana seputar pengkaderan tunas muda NU yang semakin mengkhawatirkan.

 

Seputar pengkaderan NU, pernah timbul polemik antara di website resmi NU Online antara Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dengan Ketua Umum PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) M. Rodli Kaelani. Ketika membuka Kongres IPNU-IPPNU yang tengah berlangsung di Pesantren Al Hikmah Brebes, KH Hasyim Muzadi mengeluhkan peranan PMII yang melupakan pengkaderan NU di sektor mahasiswa karena terlalu aktif berpolitik di luar kampus dan bahkan sebagian aktivis PMII terpengaruh paham liberalisme agama. Hasyim menyarankan agar IPNU-IPPNU juga turut memperhatikan pengkaderan mahasiswa tanpa melupakan pengkaderan pelajar dan santri.

Rodli Kaelani pun membantah sinyalemen Hasyim bahwa PMII melupakan pengkaderan NU di sektor mahasiswa. Menurutnya PMII tidak pernah melupakan “raison d’etre”-nya sebagai organisasi mahasiswa sayap NU walaupun telah independen secara struktural dari NU.

Polemik di atas pun hanyalah bagaikan fenomena “gunung es” dari sekian banyak problematika di NU, ormas Islam terbesar di Indonesia dan dunia yang kini makin tidak “marketable” setelah outlet-outlet politiknya seperti PKB dan PKNU hancur lebur dalam Pemilu 2009.

NU kini tidak bisa lagi membanggakan “outlet” politiknya seperti PKB yang hanya meraih 4,9% suara. Namun, untuk kembali pada khittahnya sebagai pemilik “outlet” sosial-keagamaan-pendidikan, NU juga tidak percaya diri. Masyarakat dan pasar lebih mengenal Aa Gym, Ustadz Jeffry dan dai TV lainnya sebagai tokoh-tokoh yang punya “outlet” agama daripada tokoh-tokoh NU. Sementara itu “outlet” pendidikan NU seperti pesantren pun tidak lagi populer. Masyarakat lebih memilih antre mendaftarkan anaknya di sekolah-sekolah negeri, sekolah-sekolah internasional dan sekolah swasta favorit.

Ketika “outlet” dan “produk” politik yang dikeluarkan NU tidak diterima pasar (Baca: tidak laku dijual), mungkin ada baiknya kita melihat apakah para “sales”, “manajer” dan “desainer” yang selama ini merancang “produk”, menjaga “outlet” dan memasarkan “produk” politik keluaran NU sudah menjalankan kinerjanya dengan optimal ataukah memang para desainer, manajer dan sales itu tidak kompeten?

Tidak hanya di politik, banyak kader muda NU yang tidak kompeten di berbagai sector utamanya bisnis dan birokrasi.. NU –melalui IPNU dan PMII- harus bergerilya di sekolah, pesantren dan kampus untuk mencari “elit breeds” (bibit unggul) yang kompetem. Oleh karena itu, IPNU dan PMII harus benar-benar fokus dalam perannya sebagai ujung tombak pengkaderan NU.

Bila IPNU dan PMII berperan sebagai “talent scouting” (pencari bakat), maka IPNU dan PMII perlu sadar bahwa mereka harus fokus dalam target dan sasaran ketika merekrut para pelajar dan mahasiswa. Implementasi teknisnya, IPNU dan PMII perlu fokus dalam menyasar sekolah, pesantren dan kampus yang menjadi sasaran perekrutan anggota.


Road Map Pengkaderan IPNU-IPPNU dan PMII

Pertama, untuk merekrut anggota dari pesantren/madrasah, IPNU harus menentukan pesantren/madrasah yang potensial. Pengertian potensial di sini adalah ratio santri yang melanjutkan kuliah dengan keseluruhan santri. Bila pesantren/ madrasah tersebut ratio santri yang kuliahnya rendah maka pesantren/madrasah tersebut jelas bukan sasaran utama. Mengapa? Karena, bila santri tersebut tidak melanjutkan kuliah –karena keterbatasan finansial atau akademis- maka santri tersebut tidak bisa dikembangkan potensinya untuk menjadi kader karena selulus pesantren/madrasah ia akan lebih fokus mencari kerja atau berwirausaha.

Kedua, untuk merekrut anggota dari sekolah, IPNU juga harus menentukan sekolah yang potensial. SMA-SMA negeri di kota-kota besar haruslah menjadi target IPNU. Mengapa SMA negeri? Karena –lagi-lagi- ratio pelajar SMA negeri yang melanjutkan kuliah cukup tinggi dan bahkan lulusan SMA negeri mampu diterima di PTN favorit. Misalnya, para pelajar SMA 8 Jakarta bagaikan “naik kelas” saja di UI. Begitu pula dengan SMA 3 Bandung yang “naik kelas” di ITB dan SMA 1 Yogyakarta yang “naik kelas” di UGM.

Ketiga, IPNU dan PMII harus melakukan semacam “MoU” agar kader IPNU yang masuk perguruan tinggi dapat –dan harus- menjadi anggota PMII sebagai kelanjutan kaderisasi ke-NU-an. Bila ada kader IPNU yang “nyasar” di kampus dengan menjadi anggota organisasi ekstra non-PMII, maka para pengurus IPNU harus mengingatkannya. Namun, memang untuk kondisi kekinian mengingat status independensi PMII terhadap NU, maka sebaiknya perlu komitmen ulang dari PMII untuk tetap “on the right track” pada rel NU bahkan kalau perlu PMII kembali pada NU secara struktural dan kultural. Toh, atmosfer politik otoritarianisme Orde Baru yang melatarbelakangi independensi PMII dari NU sudah tidak ada lagi.

Keempat, PMII –sebagaimana IPNU- juga harus fokus pada kampus-kampus tertentu. Bila selama ini, PMII tumbuh subur di kampus-kampus agama seperti UIN, IAIN, STAIN dan STAI swasta, maka sudah saatnya PMII melakukan “ekspansi pasar” ke kampus-kampus umum terutama UI, ITB dan UGM mengingat tiga PTN inilah yang berhasil meraih peringkat dalam survey universitas terbaik sedunia versi Times Higher Education tahun 2008 dimana UI berada di rangking 287, ITB di urutan 315 dan UGM di rangking 316. PMII harus fokus dan mengerahkan segenap sumberdayanya “at all cost” untuk merekrut kader dari UI, ITB dan UGM dan PTN lainnya karena tidak bisa dipungkiri di tiga PTN tersebut berkumpul “elit breeds” yang akan mengisi sektor strategis di bisnis/swasta, pemerintahan/ birokrasi dan political & civil society. (alf)

KOMENTAR

Belum ada komentar untuk tulisan ini

Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar

« Kembali ke arsip Tunas

NU dan Garasinya
15 Maret 2010 20:14:41

Oleh: Dr. KH A. Mustofa Bisri

Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.

Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.

(12 komentar) | Selengkapnya »

Napak Tilas lainnya:
»FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH (16 Nopember 2009 10:17:04)
»Idul Fitri dan Menjaga Kebersamaan (2 September 2009 10:44:48)
»KEKELOMPOKAN JAHILIYAH (27 Juli 2009 20:11:55)
»Model Ideal Kyai Indonesia (6 Juli 2009 09:55:46)

Login Anggota
Email:
Password:
  
Lupa Password
Daftar Menjadi Anggota
Tentang Komunitas Mata Air

Palung » Galeria

Doctor Honoris Causa Gus Mus


"SK penganugerahan ini tidak akan dicabut;" kata Rektor...

Arsip Palung » Galeria

RIAK » Video

Lihat Detail | Arsip Riak

Jajak Pendapat
Kasus moral dan kesusilaan kembali merebak setelah beredarnya video porno yang mirip artis. Menurut Anda, bagaimanakah peran pemerintah dalam mencegah berulangnya kasus serupa di masa mendatang?
Hukum pelaku penyimpangan moral seberat-beratnya
Berlakukan sensor yang ketat terhadap media massa khususnya internet
Mendorong peran Ormas keagamaan untuk melakukan pembinaan moral masyarakat
Lihat Hasil | Arsip
Kerikil »

Para politisi dan aktivis mengecam pemerintah yang kurang tegas terhadap Malaysia

Betul, betul, betul!

 

© 2005 GusMus.NET. Managed by Komunitas Mata Air. Powered by TRANSFORMATIKA.