Ass...
Gus, saya seorang pemuda yang berencana menikahi sang pacar, namun Ortu kami menentang rencana tersebut dengan alasan hitungan / weton jawa kami tidak cocok.
yang ingin saya tanyakan : dalam hal apa saja saya harus selalu patuh dan tunduk kepada orang tua, apakah dengan tidak menghiraukan nasehat ortu tersebut saya termasuk orang yang durhaka kepada orang tua.
terima kasih, dan saya tunggu nasehat dari Gus Mus.
Wass...
Penanya : Abdurrahman Said (Said) pada 20 Desember 2008 11:58:06
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Ketaatan kepada orang tua, guru, atau pemerintah, batasannya ialah dawuh : "Laa thaa'ata limakhluuqinfii ma'shiyatil Khaaliq", Tidak ada taat kepada makhluk dalam hal maksiat/melawan Sang Khalik. Kepada orangtua kita, kita harus taat; asal orangtua kita tidak menyuruh kita maksiat kepada Allah.
Taat dan menghormati orangtua tidak bertentangan dengan sikap berbeda pendapat. Perbedaan pendapat antara anak-orangtua, sebagaimana umumnya perbedaan-perbedaan pendapat, dapat disikapi dengan saling bertukar pikiran secara baik-baik. Saling memberikan hujjah dan alasan, sampai mendapatkan titik temu. Bila tidak, ya sepakat dalam perbedaan. Masing-masing berjalan sesuai pendapatnya, tapi tetap saling menghormati.
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.