maaf gus saya cuma mau tanya tentang kejadian yang baru saja terjadi, yaitu penyerangan israel ke palestina, jujur saya bingung kok negara2 OKI cm bisa mengecam, mengutuk..
menurut gusmus gimana??
maaf gus..klo bingungin..saya cm orang awam..
Penanya : Muhammad Irham (Irham) pada 29 Desember 2008 10:39:54
Jawab:
Waalaikumusalam warahmatuLlahi wabarakatuh.
Tragedi yang menimpa rakyat Palestina, di samping karena kebrutalan Israel yang didukung habis-habisan oleh Amerika, juga karena Para pemimpin politik Palestina sendiri TIDAK KOMPAK. Seperti di kita LEBIH MEMIKIRKAN KELOMPOK katimbang NEGARA. Akibat ketidak kompakan atau persetruan intern antar kelompok-kelompok Palestina (Fatah dengan Hammas), Israel jadi bisa seenak perutnya menzalimi Palestina. Israel dengan mudah mengadu Fatah dengan Hamas. Mau berunding dengan Fatah, tapi dalam waktu bersamaan menghajar Hammas. Ghaza yang dibombardir baru-baru ini adalah kawasan yang dikuasai kelompok Hammas. Hal inilah yang membuat negara-negara Arab lain pusing dan terkesan HANYA BISA MENGECAM DAN MENGUTUK. Umumnya mereka berpendapat Kelompok-kelompok (Fatah-Hammas) mesti bersatu dulu kalau ingin Palestina benar-benar menjadi negara berdaulat. (Tapi bersatu inilah yang semakin lama semakin sulit bagi kelompok-kelompok yang terus bertikai. Persatuan kubu Gus Dur vs kubu Muhaimin saja, contoh kecilnya, karena tidak dari awal segera diselesaikan; jadi semakin sulit dipersatukan. Padahal semuanya sadar bahwa pertikaian mereka hanya akan merugikan partai mereka).
Ini menurut saya.
Kalau bingung, ya nggak usah dipikir. Kalau soal bingung, tidak awam tidak khas; semuanya bisa bingung nyawang manusia dan fenomena dunia di akhir zaman ini..
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.